Featured
Posted in event, fanfiksi indonesia, Info

[INFO] Pengumuman Pemenang Special Event Jung Yonghwa’s Birthday

Hai, semuanya…

Alhamdulillah special event kami dalam rangka merayakan ulang tahun Jung Yonghwa sudah berakhir. Dan, kami mengucapkan terima kasih kepada Fransiskamaria7, Tiffatiffa, Lisna Yongshin, Kkaemi (Iklimah), @boiceblossom, Chunnie’s dan Meeys yang sudah ikut berpartisipasi dalam special event kami ini. Tak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada para pembaca setia dan pembaca baru yang sudah memberikan apresiasi di setiap FF event yang kami terbitkan.

Hari ini, 10 Juli 2017, sesuai janji kami, kami akan mengumumkan pemenang kontes fanfiksi dan juga pembaca yang mendapatkan hadiah spesial. Sesuai dengan ketentuan yang sudah kami umumkan sebelumnya, bahwa akan ada empat pemenang. Yaitu, tiga pemenang terbaik dan satu pemenang favorit (yang dihitung dari banyaknya jumlah komentar). Pada special event ini kami mengalami kesulitan untuk menentukan pemenang terbaik, karena beberapa penulis memiliki tema dan isi cerita yang sama-sama bagus dan menarik. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan diskusi akhirnya kami bisa menentukan pemenang terbaik.

Continue reading “[INFO] Pengumuman Pemenang Special Event Jung Yonghwa’s Birthday”

Featured
Posted in Info

[INFO] Syarat dan Ketentuan Menjadi Penulis Lepas/Freelance

Annyeonghaseyo ….

Tidak terasa ya sudah satu tahun lebih web tercinta kita ini menemani semuanya. Dengan semua cerita fiktif dari ff terjemahan AFF, Wangbie, dan alhamdulillah sekarang ada beberapa penulis lepas. Wuih! Jadi semakin banyak daftar ff-nya! 😘😘😘

Di kesempatan kali ini, saya ingin memberitahukan beberapa hal yang berkaitan dengan penulis lepas/freelance.

Kami ingin membuka kesempatan untuk teman-teman yang suka menulis yang ingin tulisannya diterbitkan di web ini. Apa, ada yang berminat menjadi penulis lepas/freelance di sini? 😂😂

Continue reading “[INFO] Syarat dan Ketentuan Menjadi Penulis Lepas/Freelance”

Featured
Posted in wangbie

[INFO] Pemesanan Buku Y, Why 1 dan Y, Why 2

13565324_10205454728282481_563851143_n

Alhamdulillah akhirnya keinginan Wangbie untuk membukukan FF-nya terwujud, dan mungkin ini masih menjadi satu-satunya FF Yongshin yang dibukukan. Rencana untuk membukukan FF sudah lama, tapi karena terkendala beberapa hal terutama waktu, akhirnya baru dapat terealisasikan di awal bulan Juli 2016, walaupun inginnya terbit saat ulang tahun Yonghwa.

Continue reading “[INFO] Pemesanan Buku Y, Why 1 dan Y, Why 2”

Featured
Posted in Info, wangbie

[BARU] ATURAN PEMBERIAN KOMENTAR & PERMINTAAN PASSWORD

Annyeonghaseyo… Hallo semua  … 😊

Selamat datang di web ice americano lover ini. Web yang berisikan FF Indonesia dan FF Terjemahan yang saya terjemahkan dari AFF, tentunya semua dengan seizin penulis aslinya 😊

Selamat membaca dan menikmati setiap cerita yang ada di sini. Semoga bisa membuat teman-teman merasa terhibur karena memang semua cerita FF yang disuguhkan di sini tujuannya adalah untuk menghibur.

Terima kasih sebelumnya atas apresiasi yang teman-teman berikan. Namun karena ada beberapa komentar yang membuat saya tidak nyaman beberapa waktu yang lalu, maka dengan ini saya membuat beberapa peraturan demi kebaikan dan kenyamanan bersama. Mengingat ini adalah web umum yang bisa diakses oleh semua orang, tanpa tahu batasan umur dan kalangan, saya membuat peraturan ini. Semoga teman-teman bisa mengerti dan bisa menghormati segala sesuatu yang saya upayakan untuk tujuan bersama.

Continue reading “[BARU] ATURAN PEMBERIAN KOMENTAR & PERMINTAAN PASSWORD”

Posted in fanfiksi indonesia, freelance, sequel, series

[FF Indonesia] That Beautiful Woman Is A Ghost? (Part 1)

That Beautiful Woman Is A Ghost?

Part 1

WhatsApp Image 2017-08-21 at 11.37.00

Author : Lisna YongShin

Cast : Jung Yonghwa, Park Shinhye

Continue reading “[FF Indonesia] That Beautiful Woman Is A Ghost? (Part 1)”

Posted in fanfiksi indonesia, freelance, Tiffatiffa, twoshoot

[FF Indonesia] Manito (Part 1)

Manito

Part 1 – Twoshoot

PicsArt_08-12-11.44.28

Author : Tiffatiffa

Main cast : Jung Yonghwa dan Park Shinhye

Genre : Friendship

Editor : Riefa

 

——————-

 

My love, stop and turn around

You might get surprised

But it was hard for me

I saw you smile and cry

But I couldn’t tell you

As if i was your manito

 

Tetes-tetes air yang terus mengguyur Kota Seoul sejak sore tadi menjadikan jalanan yang biasanya ramai tampak lebih lengang. Perbedaan suhu di luar ruangan mampu membuat kaca jendela besar yang berada di sampingku berembun. Seperti memiliki pikirannya sendiri, telunjukku bergerak bebas membuat gambar-gambar tanpa makna di sana. Sekadar membunuh waktu karena bosan menunggu.

Suara pintu terbuka diiringi bunyi gerincing bel khas restoran ini membuatku menoleh ke arah seorang gadis yang baru saja masuk. Tubuhnya sedikit basah. Kupastikan dia tidak membawa payung dan memilih berlari menerjang hujan dari tempat parkir.

Mata gadis itu menyipit saat berhasil menemukan sosokku di sudut restoran favorit kami. Hanya perlu melihat sekilas, aku tahu dia benar-benar kesal. Tanpa banyak basa-basi ia merebut botol soju yang hendak kuminum, menghabiskannya dalam satu tegukan.

Kadang aku heran, bagaimana bisa seorang gadis punya kemampuan minum sehebat dirinya. Bahkan dia masih belum duduk di tempatnya saat botol yang tadi terisi penuh sudah habis hampir setengah.

Tapi, Shinhye memang berbeda dari gadis kebanyakan. Dia kuat. Baik secara fisik maupun mental.

“Apalagi yang terjadi dengan gadismu itu?”

Ia menggigit satu buah ceker pedas yang aku beli dari luar tanpa permisi. Terlalu bersemangat hingga bumbu merahnya bercecer ke atas meja dan juga setelan yang digunakan.

Aku mengernyit melihat kelakuannya yang jauh dari kata feminim. “Dia bukan gadisku. Hanya teman.” Suaraku mengecil di akhir kalimat. Pandangan mataku menyendu. Dia pasti menyadarinya.

Shinhye mendengus keras, mengambil tisu yang kusodorkan. “Teman?” sinisnya. “Untuknya kau adalah teman, tapi untukmu?”

Kata-kata itu tepat sasaran. Bukan sesuatu yang mengejutkan dia bisa mengatakan hal menohok padaku, karena kami sudah mengenal sejak dulu. Terlalu lama kami bersama hingga bisa saling membaca jalan pikiran masing-masing. Maka aku memilih tidak menjawab. Toh, dia sudah tahu isi hatiku sebenarnya.

Shinhye mendecak kecil, tapi aku kembali mengabaikannya dan memilih untuk memesan beberapa botol soju lagi.

“Temani aku minum,” kataku seraya membuka sebuah botol baru dan memberikannya pada gadis itu. “Demi persahabatan kita lima belas tahun ini.” Cepat-cepat aku menambahkan sebelum ia menyemburku dengan kata-katanya yang pedas.

Atas nama persahabatan dia mulai menenggak isi botol itu lagi. Aku tersenyum kecil. Memiliki seorang sahabat seperti Shinhye adalah salah satu hal yang paling aku syukuri. Dia adalah malaikat penjagaku. Setidaknya itulah yang selalu ia katakan.

 

——————-

 

Aku menyukainya.

Senyumnya, tawanya, candanya, bahkan saat ia marah ataupun kesal, aku tetap menyukainya. Ceritanya yang berkepanjangan bagi sebagian orang mungkin terdengar membosankan tapi untukku justru seperti melodi lagu yang indah. Aku menyukai suaranya yang merdu, apalagi saat dia memanggil namaku dengan lembut.

Aku menyukai semua hal yang ada dalam dirinya.

Kecuali satu hal ….

Aku tidak suka saat dia menangis. Aku benci saat wajah cantik bak malaikat itu basah karena air mata. Saat matanya yang selalu memancarkan kebahagiaan mulai memerah sembap, aku merasa marah dan tidak berdaya.

Dia tidak akan mengatakan apa pun saat menangis. Gadis itu hanya akan mengeluarkan isakan kecil yang terdengar seperti musik kematian di telingaku. Dan aku akan membiarkannya bersandar di bahuku tanpa mengatakan apa pun. Bukan karena tidak mau menenangkannya, tapi karena aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.

Saat dia menangis aku akan seperti orang bodoh yang bahkan tidak mampu berkata-kata. Menggerakkan tanganku untuk menepuk lembut punggungnya pun membutuhkan kekuatan besar, sebab seluruh panca indra terasa kebas.

Mati rasa.

Selalu seperti itu setiap kali aku melihat air matanya.

Gumawo, Oppa. Lagi-lagi aku mengotori bajumu dengan air mataku.”

Kalimat penutup tangis yang selalu dia ucapkan. Setelah itu dia akan kembali terdiam, pun demikian dengan diriku. Hingga tiba waktunya ia mengajakku pulang. Kami hanya akan terdiam sepanjang perjalanan sampai dia kembali mengucapkan salam perpisahan sebelum menghilang di balik pagar putih rumahnya.

 

——————-

 

“Aku akan berhenti mencintainya.”

Tepat setelah aku mengatakan kalimat itu, sebuah senyum mengejek terlihat di wajah Shinhye. Mungkin karena sudah ribuan kali ia mendengarku mengatakannya. Dan ribuan kali juga kalimat itu hanya jadi bualan semata.

“Aku akan memberikan Rose padamu jika hal itu sampai terjadi,” ujarnya santai.

Semudah itu ia mempertaruhkan Rose, mobil kesayangan yang ia beli setelah menghabiskan seluruh tabungan selama beberapa tahun. Shinhye tahu benar aku tidak akan bisa melakukannya. Berhenti mencintai gadis itu sama mustahilnya seperti mempersatukan Korea Utara dan Selatan.

“Apalagi kali ini?”

Rasanya pertanyaan itu sudah sangat familier untukku. Bagaikan sebuah alarm yang selalu aku pasang di pagi hari yang siap membangunkan kala sudah berbunyi. Saat Shinhye bertanya, maka aku pun tidak akan ragu bercerita.

Seteguk alkohol membasahi kerongkongan sebelum rentetan cerita itu keluar begitu saja. Seperti biasa Shinhye hanya akan mendengarkan dalam diam ditemani beberapa botol bir dan soju.

Tidak akan ada ekspresi apa pun di sana. Ia tidak akan mengasihani atau menertawakan kebodohanku. Ia juga tidak akan berpura-pura menunjukkan sikap empati seperti yang sering aku temui dari orang lain yang tahu secuil kisah cintaku. Dia hanya akan diam dan meminum alkoholnya hingga cerita selesai.

Sungguh, aku sangat menghargai hal itu.

Dua kaleng bir dan satu botol soju sudah habis setelah aku selesai bercerita. Gadis itu benar-benar peminum andal!

“Aku manusia paling bodoh, bukan?” tanyaku kemudian.

Tentu saja Shinhye mengangguk membenarkan. Dia bahkan tidak berusaha untuk menyangkal.

“Tapi ….” Kalimatnya terputus sesaat. Ia memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan. “Bukankah cinta memang bentuk pembodohan?”

Aku terpaku untuk beberapa saat. Shinhye terlihat serius saat mengatakannya, membuatku berpikir apakah gadis itu juga sedang terpuruk karena cinta.

“Kau sakit karena mencintai, dan kau juga bahagia karenanya. Kau menangis, tapi sedetik kemudian tertawa karena cinta. Kau bahkan membenci saat mencintai.”

Dia tertawa kecil. Aku menduga gadis itu mulai kehilangan kesadaran. “Kau mabuk?”

Anni,” elaknya cepat. “Aku hanya membantumu menyadari bahwa menjadi bodoh adalah pilihanmu sendiri.”

Kali ini ganti aku yang tertawa. Shinhye memang benar. Mencintai berarti kita harus siap menjadi orang paling bodoh di dunia ini. Lebih parah lagi jika kau mencintai orang yang tidak mencintaimu. Kau akan menjadi seorang idiot, bukan lagi sekadar bodoh.

Seperti aku.

Pria di akhir usia dua puluhan yang mencintai seorang gadis dalam diam. Bodohnya, aku tetap mencintai meski gadis itu telah memberikan hatinya pada pria lain. Dan aku tetap bersedia mendengarkan semua keluh kesahnya dan menjadi tempat bersandar kala pria itu menyakitinya.

Bukankah itu bodoh? Salah. Idiot?

“Kurasa orang-orang benar. Lebih baik kita dicintai daripada mencintai,” keluhku.

Tidak disangka Shinhye justru menggeleng tak setuju. Aku memandangnya heran. Gadis itu selalu menggunakan logika dibanding perasaan, tapi saat ini justru dia lebih menggunakan sisi subjektif dari hatinya.

“Orang-orang berbohong saat mengatakan itu. Jika dicintai lebih baik daripada mencintai maka gadis itu pasti sudah memilihmu sejak dulu. Tapi nyatanya dia memilih pria lain yang selalu menyakiti hatinya terus menerus. Kau tahu kenapa?”

Aku menggeleng pelan. Benar-benar tidak tahu jawabannya.

“Karena mencintai membuatmu bahagia luar biasa. Kau tentu merasa sakit, tapi rasa bahagia yang kau dapatkan dari mencintai jauh lebih besar. Dan itu membuatmu bisa bertahan mengatasi rasa sakitnya. Bukankah begitu?”

Tanpa sadar aku mengangguk menyetujui. Karena jika benar dicintai lebih baik dari mencintai, aku pasti sudah akan berhenti mencintai ‘dia’. Mungkin aku akan mencari gadis lain yang bisa memberiku cinta tidak terbatas.

“Kau seharusnya sudah menjadi penulis terkenal saat ini. Orang-orang pasti begitu bodoh hingga mengabaikan semua tulisanmu,” pujiku.

Dan Shinhye hanya tersenyum malas mendengarnya. Ia mengacuhkan pujian tulusku dan mengambil botol bir baru. Aku mengikutinya, membiarkan minuman pahit itu masuk ke dalam tubuhku.

 

——————-

 

Aku pasti sudah terlihat seperti orang gila sekarang. Senyum di wajahku tidak mau hilang sejak tadi. Aku bahkan harus bersusah payah menahan diri agar terlihat biasa saja di depan gadis itu, meski tak mungkin juga rasanya. Dia pasti bisa melihat tulang pipiku yang naik ke atas karena tersenyum terlalu lebar.

“Apa Oppa begitu senang?”

Aku mengangguk bersemangat. “Sudah lama aku tidak pergi ke taman bermain,” bohongku.

Oh, aku sangat membenci taman bermain. Tempat ramai yang dipenuhi ratusan bahkan ribuan orang seperti ini sangat jauh dari kesukaanku. Tapi bersama gadis itu aku tidak peduli. Meski ke neraka pun aku akan sangat bahagia.

Sebesar itulah aku mencintainya.

Kami berjalan beriringan menuju bianglala. Wahana pilihanku tentu saja. Melihat laut dari ketinggian bersamanya pasti akan sangat romantis.

“Kalau begitu aku tidak perlu merasa bersalah.”

Aku mengerutkan kening. Gadis itu menangkap kebingunganku. “Tadinya aku sedikit khawatir kalau aku mengganggu Oppa. Mungkin saja Oppa punya sesuatu yang harus dikerjakan.”

Kurasakan kepalaku menggeleng cepat. “Hari ini hari Sabtu, kau tahu? Aku tidak punya pekerjaan apa pun hari ini.”

Bersamanya membuatku sering berbohong. Sebenarnya hari ini aku sudah memiliki janji dengan Shinhye, tapi saat menerima telepon dari gadis ini, langsung saja kubatalkan janji kami di menit terakhir. Tidak masalah. Shinhye tidak akan marah. Lagipula kapan lagi aku punya kesempatan kencan seperti ini.

Menyadari kata kencan yang aku simpulkan sendiri membuat wajahku memerah malu. Dan karena hari belum juga malam, maka rona itu tidak luput dari perhatian gadis itu.

Oppa, ada apa?”

“Ah, itu ….” Aku gelagapan. Bingung. “Aku hanya bingung kenapa kau mengajakku pergi. Apa kau tidak ada janji kencan dengannya?”

Mengalihkan pembicaraan adalah cara terbaik. Tapi tentu saja aku terlalu bodoh untuk memilih pembicaraan yang tepat. Kenapa juga harus membicarakan pria itu di saat seperti ini.

Rasanya aku ingin memukul diriku kuat-kuat saat melihat ekspresi gadis itu berubah sendu. “Seojun oppa ada pekerjaan mendadak.”

“Apa dia membatalkannya tiba-tiba?” Hanya itu alasan yang terpikirkan olehku kenapa gadis ini bisa tiba-tiba mengajak pergi ke taman bermain.

Saat dia mengangguk pelan, rasanya darah di tubuhku berdesir kuat. Aku marah. Bukan karena dijadikan sebagai pelarian, tapi karena sikap pria itu memperlakukan kekasihnya.

Jika berada di posisi si berengsek itu, tidak akan aku mengecewakan kekasihku hanya karena pekerjaan. Aku akan mengabaikan apa pun asal gadis di sampingku ini bahagia.

Tapi tentu saja, semua hanya jadi angan-angan belaka. Karena nyatanya aku bukanlah pria itu. Pria yang bisa memenangkan hatinya.

 

——————-

 

“Kau lihat gambar ini?”

Aku menyodorkan i-phone 6 plus milikku ke arah Shinhye. Saat ini aku sedang berada di apartemen kecil miliknya. Setelah seharian menemani gadis yang kucintai, kakiku otomatis melangkah untuk datang ke sini.

Seperti biasa, setiap kali bertemu dengan gadis itu hati ini akan terasa sakit. Selalu seperti itu. Pertemuan dengannya yang berawal membahagiakan acap kali meninggalkan rasa sesak di hati. Apalagi saat gadis itu menangis, menumpahkan air matanya untuk pria lain.

Sebenarnya aku ingin sekali membentak marah kepadanya. Menyadarkan gadis itu tentang betapa bodohnya dia. Mencintai pria berengsek yang bahkan tidak bisa membalas perasaannya.

Tapi, apa hakku untuk mengatakan itu semua? Terlebih saat aku sendiri juga melakukan hal yang sama. Jadi aku hanya bisa berdiam diri. Seperti biasa membiarkan gadis itu bersandar meski sakit hati ini terasa.

Dan sama seperti yang sudah-sudah, aku akan mencari Shinhye setelahnya. Mengadu akan rasa sakit karena gadis yang kucintai itu.

“Hei, lihatlah,” paksaku saat ia masih juga tidak mau melihatnya.

Entah karena alasan apa dia tidak mengacuhkanku saat ini. Tapi aku tahu, Shinhye tak akan betah berlama-lama mengabaikanku.

“Lihatlah!”

Kali ini berhasil. Meski hanya beberapa detik setidaknya aku tahu dia sudah melihat gambar itu.

“Lalu?”

“Bukankah aku sama menyedihkannya dengan pria itu?”

Aku melihat lagi gambar yang tadi kutunjukkan. Sebuah gambar yang kutemukan tidak sengaja di salah satu media sosial. Ada tiga orang di sana. Dua pria dan satu wanita. Si wanita berada di tengah-tengah, memayungi pria di depannya. Di belakangnya, ada pria lain yang justru memayungi si wanita diam-diam.

Pertama kali aku melihat gambar itu, aku tahu bahwa akulah si pria bodoh di belakang sana. Dan wanita di gambar itu adalah gadis yang aku cintai.

“Kau terlalu percaya diri!”

Serangan dingin Shinhye membuatku mendadak sebal. Aku menegakkan tubuh dan menyilakan kedua kaki di atas sofa. Kedua tanganku bersedekap. Aku benar-benar kesal. Dan dia tahu itu.

Shinhye meraih ponselku dan menunjuk tepat pada satu-satunya wanita dalam gambar itu. “Menurutmu apa dia juga tidak berpikir seperti itu?” Lalu telunjuknya bergeser sedikit, kini berada pada si pria yang kugambarkan sebagai diriku. “Dan apa kau pikir, tidak ada gadis lain juga yang memayungi pria ini di belakangnya?”

Aku mengerutkan kening tidak mengerti.

“Setiap orang pasti punya orang lain yang ingin mereka lindungi. Dan mereka juga pasti memiliki pelindung lain. Masalahnya kita tidak pernah mau repot-repot melihat ke belakang. Kita terlalu fokus pada orang yang ingin kita lindungi hingga lupa pada orang di belakang yang melindungi kita.”

“Ada apa denganmu?”

Shinhye melengos sesaat. “Aku hanya mengatakan kenyataan.”

Aku menggeleng pelan. Intonasi bicaranya sejak tadi sungguh tak biasa. Dingin disertai nada sinis. “Bukan itu.” Manik mata cokelat itu akhirnya kembali menatapku. “Kau … marah?” tanyaku ragu.

Saat Shinhye kembali menghindari kontak mata, aku tahu tebakanku benar. “Kenapa?”

“Ini sudah malam,” kelitnya. Ia hendak beranjak pergi namun aku menahannya cepat.

“Park Shinhye.”

Aku tidak tahu kenapa gadis itu marah. Seingatku tidak ada kesalahan besar yang bisa membuatnya marah. Atau mungkin dia sedang datang bulan?

“Aku sangat lelah seharian ini. Sebaiknya kau pulang.”

Alasannya membuatku mengernyit keras. Otakku mulai bekerja. “Apa kau menungguku tadi?”

Tidak ada jawaban. Aku menghela napas  panjang. “Bukankah aku sudah bilang aku tidak bisa datang?”

“Setengah jam sebelum waktu perjanjian kita? Apa kau gila?” Shinhye melepas paksa tangannya.

Dia marah. Dan aku tahu ini adalah kesalahanku.

“Dia meneleponku di saat aku akan pergi.”

Itu adalah pembelaan paling mengerikan yang pernah kuberikan. Membatalkan janji demi seorang gadis di menit terakhir. Konyol memang, tapi aku lebih mementingkan cinta buta dibanding persahabatan belasan tahun.

Shinhye menutup mata dan mengembuskan napasnya keras. Kebiasaan yang ia lakukan saat ingin menenangkan diri.

“Pergilah.”

Satu kata itu membuatku membeku. Shinhye tidak pernah mengusirku seperti ini. Kenyataan bahwa ia menyuruhku pergi tanpa ragu membuatku marah. Maka tanpa mengucapkan sepatah kata lagi aku melangkah keluar dari apartemen gadis itu.

 

——————-

 

Sudah tiga puluh menit aku berdiri di depan pintu alumunium ini. Setiap kali tanganku bergerak untuk menekan bel, saat itu juga rasa gengsi dan takut menghentikan. Ini pertama kalinya aku dan Shinhye bertengkar hebat. Setelah lima belas tahun saling mengenal dan menjadi sahabat, baru kali ini kami sampai tidak berkomunikasi hingga beberapa hari lamanya. Padahal biasanya hanya butuh beberapa jam untuk kami berdua saling memaafkan saat bertengkar.

Seperti biasa, pengalaman pertama selalu memberikan rasa asing. Begitu pula dengan aksi saling diam yang baru pernah aku alami sekali ini dengan Shinhye. Rasanya ada hal yang mengganjal di hati. Aku tidak tenang.

Mengenal sifat Shinhye dengan baik, aku tahu jika saat itu aku memilih tetap tinggal maka kami akan bisa membicarakan masalah ini baik-baik. Tapi saat mendengar dia mengusirku begitu saja, aku tidak bisa menahan emosi.

Aku marah.

Tsk! Sungguh kekanakan.

Beberapa hari menenangkan diri, kemarahan itu perlahan menghilang lalu berubah menjadi sebuah kekosongan. Wajar saja. Selama belasan tahun dia adalah orang yang aku temui hampir setiap hari. Dia sudah seperti keluarga untukku.

Jadi demi persahabatan bertahun, aku telan semua gengsi dan ego dalam diri. Meski harus merasakan kekecewaan pahit karena Shinhye sama sekali tidak mencoba menghubungi, aku memutuskan untuk datang menemuinya lebih dulu.

Mengumpulkan segenap keberanian, kutekan bel putih itu. Selama satu menit menunggu pintu terbuka, ketegangan menyelimutiku.

Aku takut melihat reaksi Shinhye nantinya. Kemungkinan dia masih marah dan kembali mengusirku membuat aku sulit bernapas. Sesak rasanya. Tapi aku juga merasakan euforia yang tidak biasa. Sebuah perasaan bahagia karena bisa bertemu dengan seseorang yang lama dirindukan.

Saat pintu terbuka kami berdua hanya terdiam tanpa suara. Padahal aku sudah menyiapkan beberapa kalimat pembuka sejak kemarin. Tapi mulutku justru tak mau membuka. Mataku sibuk mengamati wajah gadis itu, membaca pikirannya. Dan aku tahu Shinhye pun sedang melakukan hal yang sama.

“Masuklah,” ujarnya setelah beberapa menit kami berdiam diri seperti patung.

Sedikit canggung aku masuk ke dalam tempat yang sudah kuanggap seperti rumah kedua. Aku hanya berdiri di sisi ruang tamu. Padahal biasanya tanpa sungkan aku akan segera berselonjor ria duduk di atas sofa atau pergi ke dapur kecil di sudut sana untuk mencuri apa pun isi di dalam kulkas.

Aku melirik sekilas ke arah Shinhye yang sedang memperhatikanku dari ujung kaki ke ujung kepala, membuat kegugupanku semakin menjadi.

“Shinhye yah ….”

Baru saja aku memanggil namanya, tiba-tiba sebuah tawa familier mengisi ruang tamu sunyi ini. Dengan wajah memerah karena terbahak gadis itu memegang perutnya hingga tertunduk. Untuk beberapa saat aku tidak bisa mengerti apa yang terjadi. Sampai akhirnya aku mampu membaca raut wajah itu lagi.

“Kau mengerjaiku?”

Shinhye masih tertawa keras. “Kau benar-benar lucu Yong ah hahahaa ….” Ia berhenti sesaat untuk mengambil napas.

Terlalu banyak tertawa bisa membuatmu mati karena kekurangan oksigen, apa kalian tahu?

“Ekspresi wajahmu itu benar-benar menggelikan! Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya,” godanya lagi.

Aku mendengus kesal. Membuang wajahku dari gadis nakal itu. Tidak. Tentu saja aku tidak benar-benar marah kepadanya. Mana bisa!

“Berhenti berpura-pura marah. Itu menggelikan!”

Shinhye memang terlampau mengenaliku. Maka akting tak mumpuni itu pun kuakhiri. Kedua sudut bibirku otomatis tertarik ke atas saat melihat senyum gadis itu lagi.

Aku menyodorkan jari kelingking kananku kepadanya. “Kita berbaikan?”

“Dengan senang hati!” pekik Shinhye semangat.

Kelingking kecil miliknya bertaut dengan kelingkingku, membentuk sebuah tanda berbaikan. Kekanakan. Tapi itulah cara kami sejak dulu. Meski sekarang umur kami sudah mendekati kepala tiga, tapi usia tetap tidak bisa mengubah kebiasaan.

Kami saling tersenyum untuk beberapa saat hingga akhirnya aku melepaskan tautan itu tiba-tiba. Aku beranjak pergi menuju kulkas kecil di sudut dapur.

Jujur, rasanya aku masih sedikit canggung sekarang. Jadi lebih baik aku melarikan diri sebentar untuk menetralisir kecanggungan yang kurasakan.

Mataku mencari-cari kaleng bir yang biasanya tersimpan di sana. Sayang, aku tidak menemukannya kali ini. “Tidak ada bir?” teriakku masih dari dapur.

“Sepertinya habis!” Shinhye menjawab dengan teriakan juga dari dalam ruang tamu.

Aku mengerucutkan bibir kecewa lalu kembali ke ruang tamu dengan sekaleng cola. “Ah! Aku ingin minum bir!” kesalku sembari meletakkan kaleng minuman bersoda itu ke atas meja. Aku menatap wajah gadis itu dengan ekspresi nelangsa yang dibuat-buat.

Shinhye mendesis kesal. “Kau menyebalkan.”

Senyum penuh kemenangan menghiasi wajahku saat dia pergi ke dalam kamar untuk mengambil dompet.

“Aku tidak memintamu membelinya, okay?” teriakku saat gadis itu sudah berada di depan pintu. Siap ke minimarket terdekat untuk membeli bir.

“Tidak ada ayam goreng. Ingat itu!” sentaknya sebelum benar-benar membuka pintu.

“Aku menyayangimu, Shin!”

Aku tertawa keras saat mendengar suara pintu yang dibanting. Tahu bahwa gadis itu mendengar kata-kata terakhirku. Sekarang aku hanya perlu menunggu beberapa lama dan Shinhye akan datang dengan bir dan sebungkus ayam goreng.

Kami berteman terlalu lama hingga aku bisa bertaruh bahwa gadis itu akan datang dengan pesanan yang tak kusebutkan. Waktu adalah hal terbaik yang membantu kami saling memahami satu sama lain.

Aku mengecek jam di dinding. Pukul 21.00, hanya drama remaja menggelikan yang akan ditayangkan di waktu seperti ini. Bosan, aku pun masuk ke satu-satunya kamar di apartemen sederhana ini.

Aku tertawa kecil melihat keadaan kamar Shinhye. Meski belum pernah masuk ke dalam kamar gadis lainnya, tapi aku yakin kamar milik Shinhye adalah yang paling berantakan yang pernah dimiliki oleh seorang gadis. Bahkan kamarku saja lebih rapi daripada tempat ini.

Beberapa baju tampak berserakan di atas kasur, dan ada sebagian yang menggantung di gantungan dinding. Bahkan aku bisa melihat sebuah tank-top putih tergantung di salah satu tempat. Aku bergidik ngeri membayangkan ada kain rahasia lain yang tersembunyi di balik pakaian-pakaian itu.

Shinhye benar-benar!

Mataku akhirnya beralih pada meja belajar kecil di samping ranjang. Ada beberapa alat tulis dan hiasan-hiasan tak penting yang membuat meja belajar itu terlihat penuh. Tertarik, aku berjalan mendekat.

Senyumku mengembang kala melihat potret gambar diriku dan Shinhye saat kami sama-sama lulus kuliah. Lalu ada sebuah bingkai lain berisi foto keluarganya yang berada di Busan. Melihat itu aku jadi merindukan keluargaku juga. Mungkin akhir pekan ini aku akan mengajak Shinhye pulang ke Busan bersama.

Setelah puas bernostalgia dengan dua buah foto itu, pandanganku teralih pada laptop putih yang masih terbuka. Tanpa sadar, tanganku menekan tombol untuk menyalakan. Aku tahu ini melanggar privasi, meski kami sudah berteman belasan tahun tapi perbuatanku ini memang tidak bisa dibenarkan.

Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Laptop itu sudah menyala dan meminta kata sandi. Aku mencoba beberapa kombinasi angka. Tepat seperti dugaanku, kata sandi gadis itu adalah hari ulang tahun idola favoritnya. Huh! Kelakuannya memang masih seperti fan remaja.

Ternyata laptop Shinhye bukan dalam keadaan mati, tapi tertidur. Ada beberapa dokumen yang sedang terbuka. Mungkin itu adalah naskah novel yang sedang dia kerjakan. Penasaran, aku membuka salah satunya secara acak.

Aku membeku sesaat setelah membaca kalimat pertama dari dokumen itu.

Manito.

Dia adalah orang yang aku cintai. Namun aku hanya bisa mencintainya diam-diam. Aku hanya akan menjadi seorang manito untuknya.

 

——————-

To be continued ….

——————-

 

Notes :

 

Untuk pertama kalinya aku make sudut pandang orang pertama buat cerita yang kutulis, semoga enggak terlalu aneh ya hihi. Btw ide cerita ini muncul tiba-tiba pas CNBLUE lagi tampil bawain lagu Manito di BUinJKT. Ngomongin soal lagu Manito, awalnya aku cuma suka liriknya doang loh, soalnya nadanya kurang catchy menurutku haha. Tapi setelah dengerin versi akustikan secara live jadi demen deh hihi.

Buat yang ga tahu manito itu apa, kalau kata mbah google sih itu bahasa Italia. Artinya malaikat penjaga gitu deh. Di sini kalian bisa tebak kan siapa malaikat penjaga sebenernya? 😂😂😂

Niatnya mau bikin twoshoot (doakan aku berhasil ya 😝). Kalau kalian pengen sad ending atau happy ending nih?

 

 

 

 

Catatan Admin :

Hore Tifa kembali hadir dengan FF baru yang berjudul “Manito”. Kok bawaannya nyesek ya hehehe. Kalau aku sih ya maunya happy ending karena tidak suka dengan cerita yang sad ending, tapi semua tergantung Tifa mau dibawa ke mana cerita ini. Tetap semangat dan terus belajar ya 🙂

Ada grup WhatsApp khusus pembaca web ini sebagai ajang berbagi dan silaturahim, bila ingin bergabung sila hubungi Lisna di nomor 0821-8593-4742.

Selamat membaca dan jangan lupa komentar, saran dan kritiknya. Terima kasih

Update postingan FF di web bisa dilihat di facebook HS Corner Shop atau di twitter Lovetheangels1

 

Posted in fanfiksi indonesia, freelance, sequel, series, Tiffatiffa

[FF Indonesia] Erase (Part 5)

Erase

Part 5

photogrid_1487169600917

Author : Tiffatiffa

Main cast : Jung Yonghwa dan Park Shinhye

Continue reading “[FF Indonesia] Erase (Part 5)”

Posted in fanfiksi indonesia, freelance, sequel, series, Tiffatiffa

Protected: [FF Indonesia] Let’s Go Crazy (Part 5/Ending)

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in cikbella, fanfiksi terjemahan, sequel, series

[FF Terjemahan] Reach For The Rainbow (Part 11)

Reach For The Rainbow

Part 11

Penulis : Cikbella

Karakter :

Jung Yonghwa

Park Shinhye

Continue reading “[FF Terjemahan] Reach For The Rainbow (Part 11)”