Posted in fanfiksi indonesia, freelance, sequel, series, Tiffatiffa

[FF Indonesia] Let’s Go Crazy (Part 3)


Let’s Go Crazy

Part 3

lets-go-crazy

Author : Tiffatiffa

Main cast : Jung Yonghwa dan Park Shinhye

Other cast : Im Se Mi, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, dan Cho Kyuhyun.

Editor : Riefa

~~~~~~~~~~

D-5

Shinhye mendorong tubuh Kyuhyun menjauh saat tangan pria itu mulai bermain di atas kancing bajunya. Gadis cantik itu lantas merapikan rambutnya yang berantakan dan mengelap bibirnya yang basah karena ciuman panas yang baru saja ia bagi dengan sang anggota boyband itu.

“Aku harus segera pergi sekarang,” ujarnya setelah memastikan penampilannya sudah cukup layak tampil. Ia bangkit berdiri hendak meraih tas tangan yang tadi dibawanya ke apartemen ini.

Kyuhyun mengikuti pergerakan gadis itu dari belakang. Sebenarnya ia tak ingin Shinhye pergi. Masih ada banyak hal yang ingin ia lakukan dengan gadis itu. Makan malam bersama, atau sekedar menonton film sembari berbagi pelukan hangat, mungkin? Akan sangat hebat jika mereka bisa menghabiskan malam indah bersama. Namun segera pikiran itu ditepis oleh Kyuhyun. Sampai saat ini Shinhye selalu menolak kontak fisik yang terlalu jauh.

“Kita akan bertemu lagi besok, bukan?” tanya Kyuhyun sembari berjalan menuju pintu untuk mengantar gadis itu keluar.

“Tidak. Aku punya pekerjaan di Busan besok.”

“Kalau begitu kita baru bisa bertemu minggu depan.” Kyuhyun mengerucutkan bibirnya kecewa. “Aku harus pergi ke Cina lusa,” ujarnya saat melihat raut penuh tanya di wajah cantik sang aktris.

Shinhye terdiam sejenak. Menghitung hari di dalam otaknya. Satu minggu yang akan datang waktu dua bulannya sudah habis. Saat itu, sesuai kesepakatan, hubungannya dan Yonghwa akan dimulai lagi. Ia akan kembali menjadi kekasih dari bintang rock ternama itu.

“Kita akan bertemu segera setelah aku pulang, bukan?”

Pertanyaan Kyuhyun membuat Shinhye bingung. Oh, ayolah, bukankah seharusnya kau segera menggeleng dan menolak permintaan pria itu, Park Shinhye?

Tapi nyatanya, ia hanya tersenyum singkat lalu memberikan kecupan ringan di bibir pria itu. Shinhye tidak menjawab. Justru membuka pintu kemudian pergi tanpa mengatakan apa pun.

Bagi Kyuhyun tindakan Shinhye mungkin sebuah jawaban ‘iya’, namun sesungguhnya itu adalah tanda kebimbangan dari gadis berparas bak malaikat itu.

~~~~~~~~~

D-1

Kelap-kelip lampu warna-warni yang menyakiti mata serta keramaian manusia di tengah dentuman musik EDM yang memekakan telinga merupakan suasana lumrah di setiap bar yang ada. Suatu keadaan yang juga semakin familier bagi sosok pria tampan yang duduk sendiri di meja panjang yang langsung berhadapan dengan bartender.

Sebuah ice bucket dan gelas kristal serta dua botol vodka yang sudah kosong ditambah satu botol lain yang masih terisi setengahnya terlihat mengisi meja di hadapannya. Saat Yonghwa kembali menuang isi botol vodkanya ke dalam gelas, seorang gadis bertubuh semampai mendatanginya. Tanpa permisi duduk di pangkuan pria itu lalu menyelipkan tangannya ke leher Yonghwa.

“Kau sendiri saja, Tuan Jung? Aku bisa menemanimu,” bisik gadis itu menggoda.

Yonghwa menyeringai pelan. Jika beberapa minggu lalu gadis bertubuh molek ini mendatanginya, tentu Yonghwa tak akan menolak. Tapi saat ini tanpa banyak basa-basi ia segera saja mendorongnya menjauh, membuat sang gadis hampir saja terjerembap jatuh.

“Kau menolakku?” tanyanya tak terima. Ia masih ingat satu bulan lalu sang vokalis band itu bermain mata dengannya. Kala itu ia tak bisa bermain-main karena dirinya datang bersama pria lain. Namun sekarang, saat ia datang seorang diri, Yonghwa justru menolaknya dengan kasar.

Yonghwa menggoyang-goyangkan gelas berisi vodka di tangannya lalu tersenyum mengejek. “Aku sudah tidak bermain-main dengan kalian semua lagi sekarang. Pergilah. Aku sedang menunggu cintaku,” usirnya dengan nada suara mengambang. Dua botol vodka memang cukup untuk membuat seseorang kehilangan kesadaran.

Merasa malu karena ditolak mentah-mentah, gadis itu pun segera saja berlalu meninggalkan Yonghwa yang kembali meneguk minuman keras itu seorang diri. Sebentar kemudian ia tersenyum sendiri seraya menatap jarum jam di pergelangan kirinya. Telunjuk tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja kayu panjang itu, mengikuti detak jarum jam.

60…59…58…

Dia menghitung mundur dalam hati. Lalu saat detik jarum berhenti tepat di angka 12, ia bersorak seorang diri. Layaknya orang yang bersukacita saat hari pergantian tahun tiba.

Waktu yang selama ini ditunggunya sudah datang. Enam puluh hari kesepakatan gilanya berakhir sudah. Hari-hari kebebasan yang ternyata menyesakkan itu akhirnya selesai. Benar-benar usai.

Tanpa banyak berpikir, ia segera menyerahkan beberapa lembar uang di atas meja counter lalu berjalan keluar dari sana. Sedikit terhuyung, namun tidak apa-apa. Kakinya masih bisa melangkah. Tangannya masih sanggup menghentikan sebuah taksi yang melintas. Dan mulutnya masih fasih menyebutkan sebuah alamat, tempat di mana gadis itu berada.

~~~~~~~~~

D-day

From : Cho Kyuhyun

Aku akan mengambil penerbangan malam besok. Lusa kita akan bertemu, bukan?

Aku merindukanmu, sayang.

Shinhye mendesah keras membaca pesan yang baru ia buka. Dengan malas ia menaruh kembali ponsel pribadinya ke atas meja kecil di samping tempat tidur. Matanya melirik jam beker yang terletak di atas meja. Sudah hampir pukul 01.00 dini hari, namun matanya tak bisa terpejam meski sudah hampir dua jam ia berbaring di kasur empuknya.

Ia terkena insomnia. Wajar karena hari ini adalah hari yang penting untuknya. Hari di mana kesepakatan gila yang dicetuskan oleh Yonghwa akan berakhir. Hari besar yang beberapa minggu lalu selalu ia tunggu. Namun sekarang entah mengapa ia merasa takut menghadapi hari ini.

Suara gerbang yang dipukul dengan kuat membuat Shinhye terbangun dari tempat tidurnya. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras. Ada rasa was-was yang terselip mengingat dirinya hanya seorang diri di rumah. Kedua orangtuanya sedang pergi berlibur ke Jeju, sedang Shinwon bermalam di rumah temannya.

Gadis itu memikirkan segala kemungkinan. Terlalu larut bagi seseorang untuk bertamu. Lagipula tak mungkin rasanya jika seorang tamu memilih memukul-mukul pagar besi ketika disediakan bel tepat di dinding samping pagar. Jika itu pencuri, maka akan lebih aneh lagi karena suara pagar besi yang dipukul keras itu bisa saja membangunkan sang pemilik rumah.

Suara-suara besi beradu semakin kuat disusul teriakan parau yang familier untuk Shinhye. Gadis itu turun ke lantai bawah lalu mengintip dari kaca jendela ruang tamu, memastikan bahwa ia tak salah dengar. Dugaannya benar. Sosok pembuat keributan di luar sana adalah mantan kekasihnya, Jung Yonghwa.

Dengan langkah cepat ia segera membuka pintu dan berlari melintasi halaman kecil rumahnya. Kini mereka berhadapan dengan gerbang besi hitam sebagai pembatas.

“Oh? Park Shinhye? Kau akhirnya datang juga,” celoteh Yonghwa saat melihat sosok gadis cantik itu berada di hadapannya. Ia tersenyum bodoh seraya menunjuk-nunjuk ke arah Shinhye. “Uri yeoja, Park Shinhye!” pekiknya gembira. Tubuhnya sepenuhnya ditopang oleh pagar besi itu.

Shinhye menghela napas dalam. Dilihat dari keadaannya saat ini, tak diragukan lagi bahwa pria itu sudah mabuk berat. Bahkan ia bisa mencium bau alkohol meski jarak mereka tak begitu dekat. Entah bagaimana caranya ia bisa sampai ke sini. Menggunakan taksi mungkin.

Tak ingin membuat keributan, Shinhye pun memilih mengusir Yonghwa. “Pulanglah. Ini sudah malam.”

Anni. Hari ini kita kembali bersama. Aku mau bersamamu. Aku tidak mau pulang!” rengeknya manja.

Shinhye mendesah pelan. “Kau sudah mabuk, Yonghwa ssi.”

Anni …. Aku tidak mabuk,” bantahnya seperti anak kecil. Sesaat kemudian, Yonghwa mulai merasa kedinginan. Ia memeluk tubuhnya sendiri seraya mengusap-usap kedua lengannya. “Ah! Dingin!”

Menghela napas dalam, Shinhye akhirnya membuka pintu gerbang untuk Yonghwa. “Masuklah.” ajaknya. Tak sampai hati membiarkan pria itu berlama-lama terkena angin kencang di akhir musim dingin.

Yonghwa tersenyum gembira. Ia sempat kehilangan keseimbangan saat harus berdiri sendiri tanpa ditopang apa pun namun berhasil berdiri tegap kembali. Beberapa langkah ia berjalan sebelum akhirnya terjatuh ke tanah.

Shinhye yang berjalan di belakang Yonghwa terkejut ketika melihat pria itu terjerembap di tanah. Segera saja ia menghampiri Yonghwa, takut jika sang bintang rock terluka. “Yonghwa yah …” panggilnya pelan.

Tak ada jawaban. Shinhye sempat takut sejenak, namun segera menghela napas lega ketika mendengar dengkuran kecil dari mulut Yonghwa. “Kau benar-benar keterlaluan,” bisiknya tertahan sebelum mencoba mengangkat tubuh pria itu masuk ke dalam rumah.

~~~~~~~~

Layaknya seorang malaikat, pria itu tertidur tanpa dosa di kasur empuk milik Shinhye. Gadis empunya ruangan hanya mampu mendesah pelan sembari memukul-mukul bahunya yang terasa kebas. Memapah Yonghwa dari depan hingga kamarnya yang berada di lantai 2 bukanlah hal yang mudah. Seluruh tubuhnya lemas seketika, dan pria itu justru terlelap tenang dalam tidurnya.

Baru saja Shinhye hendak keluar dari kamar, suara erangan milik Yonghwa menghentikannya. Ia memutar badan, melangkahkan kakinya mendekati pria itu, mengamati saksama takut-takut Yonghwa terluka.

Mianhae ….”

Suara letih pria itu terdengar berbisik. Matanya masih tertutup rapat namun setetes kristal bening tampak jatuh di pipi Yonghwa. “Shinhye yah, kembalilah padaku,” lirihnya di alam bawah sadar.

Shinhye tercekat mendengar permintaan Yonghwa. Dua minggu lalu di bar, pria itu juga mengucapkan kalimat yang sama. Namun Shinhye tak luluh saat itu. Kini ketika Yonghwa mengatakan maaf dan permohonan untuk kembali bersama di tengah ketidaksadarannya. Gadis itu tak sanggup lagi menahan diri. Ia menangis perlahan, tanpa suara menumpahkan rasa sakit yang menyesakkan.

Tangan gadis itu bergerak pelan dan mendarat di pipi Yonghwa. Ibu jarinya dengan lembut mengusap air mata yang tadi jatuh di sana. Memperhatikan dengan saksama garis wajah Yonghwa yang terlihat begitu lelah. Setelah sekian lama, baru Shinhye bisa melihatnya, gurat kelelahan yang tak lagi tersembunyi.

“Apa begitu menyakitkan?” tanya Shinhye berbisik. Jemarinya kembali mengusap pipi yang semakin lama semakin tirus itu. “Apakah benar-benar menyakitkan?” tanyanya sekali lagi.

Nomu appo.”

Seperti mendengar pertanyaannya, Yonghwa menjawab lirih dari alam bawah sadarnya. Shinhye tersenyum pahit. Tangannya naik ke rambut hitam legam Yonghwa. “Bodoh,” umpatnya pelan. “Kau benar-benar bodoh, Yong.”

~~~~~~~~

Yonghwa terbangun dengan kepala yang begitu berat. Ia mengerjap beberapa kali sambil menekan kepalanya kuat-kuat. Pandangannya menyapu seluruh ruangan mencoba menerka di mana ia berada. Lalu matanya berhenti pada sisi dinding yang penuh dengan berbagai ukuran pigura foto. Gambar dua dimensi dari seorang bintang hallyu yang beberapa tahun ini mengisi hatinya terpanjang di sana. Ia tahu di mana dirinya berada sekarang.

Perlahan Yonghwa mencoba bangun, berjalan menyusuri ruangan yang cukup familier untuknya. Bibirnya melengkung membentuk senyuman manakala menemukan foto dirinya yang tengah merangkul mesra Shinhye terpajang di atas meja rias gadis itu. Tangannya mencoba meraih pigura kaca tersebut, tapi pigura foto itu justru jatuh tersenggol oleh tangannya sendiri.

Suara pecahan kaca terdengar cukup menggema. Lalu beberapa saat kemudian sang pemilik ruangan datang terburu-buru. Mungkin kaget karena mendengar dentingan kaca yang beradu dengan lantai keramik.

“Apa yang terjadi?” tanyanya sembari berjalan cepat ke arah Yonghwa. Ia mencoba memeriksa tubuh pria itu. Takut ada luka di sana. “Kau tidak apa-apa?”

Yonghwa menggeleng cepat. Ia masih terkejut dengan insiden kecil tadi. Dan entah kenapa hatinya berdegup kencang. Ini bukan pertanda buruk, bukan? Ah, tentu tidak. Hari ini perjanjian mereka sudah berakhir. Ini akan jadi hari baru untuk hubungan mereka.

“Yonghwa,” panggil Shinhye.

“Pigura foto kita terjatuh.” Yonghwa menjawab pertanyaan Shinhye yang pertama. Sangat terlambat karena gadis itu sudah melihatnya tadi.

Gwaenchana. Aku akan membereskannya nanti,” sahutnya. Ia lalu tersenyum lembut pada Yonghwa. “Sekarang lebih baik kita turun. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu.”

Ia hendak berjalan pergi saat Yonghwa menahan pergelangan tangannya, mencegahnya melangkah. “Ada apa?” tanya gadis itu heran.

Yonghwa menelan ludahnya pelan. Ia gugup. Tangannya dingin berkeringat. “Kita … kembali bersama bukan?” Terbata Yonghwa menanyakan kegundahannya sejak beberapa hari yang lalu. Sesuai kesepakatan, seharusnya hubungan mereka kembali lagi seperti sedia kala. Tapi entah mengapa Yonghwa tak begitu yakin lagi. Enam puluh hari yang telah terlewati membuatnya ragu Shinhye akan mau kembali padanya.

Di luar dugaan, gadis itu justru mengangguk samar sambil bergumam mengiyakan. Yonghwa melonjak girang dan segera memeluk erat Shinhye. Terlalu senang pria itu hingga tak menyadari bahwa sang kekasih tak membalas pelukannya sama sekali. Kedua tangan Shinhye hanya diam tak bergerak di kedua sisi tubuhnya.

~~~~~~~~

Ada sesuatu yang salah dengan gadis itu.

Begitulah pemikiran Yonghwa selama beberapa jam terakhir ini. Setelah menyelesaikan sarapan bersama, Yonghwa yang tak memiliki kegiatan apa pun hari ini berkeras untuk tetap tinggal di sini. Dan Shinhye hanya mengangguk samar, setuju dengan keinginan pria itu.

Kemudian saat Yonghwa mencoba melakukan skinship dengannya, Shinhye sama sekali tak membalas. Bahkan saat ia memeluk Shinhye yang sedang mencuci piring dari belakang, gadis itu tak bereaksi dan tetap menyelesaikan pekerjaannya.

Sekarang mereka sedang menikmati film kesukaan Yonghwa, Love Actually, dengan posisi tangan pria itu merangkul erat pinggang Shinhye. Sesekali jemari lentik Yonghwa akan merangkak naik membelai lembut rambut berwaran merah wine milik gadis itu. Lalu beberapa kali ia mengecup puncak kepala, pipi, atau bahu Shinhye, mengecap aroma harum yang dirindukannya.

Dan untuk hal itu pun, Shinhye hanya membiarkan pria itu melakukan apa saja. Sesuka hatinya.

Seharusnya Yonghwa merasa senang dan tak perlu ketakutan seperti ini. Tapi ia tahu ada yang salah dengan semua itu. Pasalnya, meski tak menolak atau menepis semua perlakuan Yonghwa, gadis itu hanya diam saja tak melakukan apa pun. Jangankan balas memeluk atau mencium, menjawab kalimat cinta darinya saja tidak dilakukan oleh Shinhye. Gadis itu pun hanya berbicara seperlunya saja. Hanya Yonghwa yang terus menerus mengoceh tentang berbagai macam hal.

“Ada apa denganmu?” Tak tahan dengan sikap janggal Shinhye, Yonghwa pun memutuskan untuk bertanya.

Gadis itu menarik tubuhnya menjauh lalu menatap datar pada sang kekasih. “Aku tidak apa-apa.”

“Shinhye ….”

Yonghwa mendesah berat. “Aku tahu ada yang salah denganmu. Katakan ada apa? Kenapa kau bersikap dingin seperti ini? Apa kau masih marah?”

Kali ini ganti Shinhye yang menghela napas kuat. Ia sendiri bingung dengan dirinya. Sejak bangun tadi pagi ia sudah memutuskan untuk memaafkan semua kegilaan Yonghwa, lalu berjanji untuk memulai kembali hubungan mereka. Merangkai rajutan tali cinta yang sempat berhenti selama dua bulan penuh. Shinhye sudah berjanji untuk melakukannya sesuai kesepakatan enam puluh hari yang lalu.

Tapi …

Setiap kali Shinhye melihat wajah pria itu, ia tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk terluka. Saat tangan kekar Yonghwa memeluknya mesra, saat bibir merah pria itu mengecupnya penuh cinta, sekelebat bayangan saat Yonghwa bercumbu dengan gadis lain selalu menyergapnya. Ia bahkan tak mampu membalas ucapan cinta Yonghwa karena ragu pria itu benar-benar tulus mengatakannya.

Logika dan hatinya bertarung keras. Ia hampir gila.

Jadi Shinhye memilih menjadi patung yang tak punya hati. Menerima apa pun yang Yonghwa berikan tanpa berniat menanggapinya dengan benar.

“Shin …. Chagi.”

Satu panggilan sayang keluar dari mulut Yonghwa. Dan itu cukup untuk membuat Shinhye sadar. Semuanya sudah tak sama. Panggilan cinta itu mendadak membuatnya muak. Bukan saja pada Yonghwa, tapi pada juga dirinya sendiri.

Ia ingat bukan hanya Yonghwa yang bermain cinta. Dirinya pun mencumbu pria lain, merespon panggilan mesra dari lelaki lainnya di luar sana. Bukan hanya Yonghwa yang bermain api dan menjadi gila. Ia pun sama mengerikannya dengan pria itu. Dan aksi gilanya membuat Shinhye merasa benci pada dirinya sendiri. Kegilaannya selama ini membuat gadis itu tak lagi bisa mencintai dengan benar.

“Shinhye ….”

Yonghwa terperanjat kaget saat melihat air mata jatuh membasahi wajah cantik itu. Hatinya mendadak nyeri. Perasaan tak enak memenuhi dirinya.

“Yong.”

Panggilan itu membuat tubuh Yonghwa kaku. Nada suara itu, sorot mata penuh luka itu, mendatangkan ketakutan luar biasa untuk Yonghwa. Ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Aku … tidak bisa melanjutkan ini lagi.”

Suara Shinhye pecah saat mengatakan hal itu. Ia menangis keras. Sesenggukan.

Shinhye terluka. Dan Yonghwa yakin ia bisa mengerti luka gadis itu. Karena sekarang pun ia sedang merasakannya sendiri. Sakit. Perih.

Yonghwa ingin berteriak menolak. Ia ingin bertanya kenapa. Tapi akal sehatnya masih mampu memberikan seribu satu alasan tepat atas kalimat Shinhye.

Tentu.

Bukankah kemungkinan ini sudah pernah terbersit di kepalanya? Bukankah ketakutannya belakangan ini adalah karena ia sudah bisa memprediksi hal ini akan terjadi?

Dugaannya benar. Shinhye tidak bisa kembali kepadanya.

“Aku sudah berusaha, Yong. Tapi rasanya tetap menyakitkan.” Isakan kecil mengiringi penjelasan sederhana Shinhye. Gadis itu sudah mencoba, meski tak sampai satu hari.

“Apa benar-benar tidak bisa?” tanya Yonghwa dengan suara yang pecah. Matanya sudah memerah. Tinggal menunggu waktu hingga wajahnya basah oleh air mata. “Benar-benar tidak bisa?”

Shinhye menggeleng lemah. Ternyata enam puluh hari cukup untuk membuat pijakan kebersamaannya dengan Yonghwa tak lagi kuat. Tanah kering itu benar-benar berubah menjadi lempengan es tipis di tengah lautan. Dan saat Shinhye mencoba berjalan, ternyata kristal beku itu tak mampu menopangnya. Retak dan hancur, membuatnya terjerembap jatuh ke air yang membuatnya menggigil beku.

“Maafkan aku,” lirihnya lemah.

“Kau tidak mencintaiku lagi?” tanya Yonghwa putus asa. Ia masih berusaha membuat Shinhye merubah keputusannya.

“Kau tahu jawabannya.”

“Dan itu tetap tidak bisa membuatmu kembali?”

Sekali lagi Shinhye menggelengkan kepalanya. Bahkan rasa cintanya yang sedemikian besar untuk Yonghwa tak mampu menutupi rasa sakit dan kecewanya. Sekali lagi, bukan hanya pada pria itu, tapi juga rasa kecewa pada dirinya sendiri.

“Benar-benar berakhir?” Yonghwa bertanya lirih.

Kristal bening itu masih terus jatuh dari mata merahnya. Ah! Ia harap ini hanya mimpi. Tapi nyatanya bukan. Karena rasa sakit menyayat hati ini benar-benar terasa begitu nyata.

Ini bukan mimpi.

Ini kenyataannya.

Kegilaannya berbuahkan perpisahan. Dan Yonghwa tak kuasa mencegahnya. Tidak. Ia tidak punya daya untuk memaksa Shinhye kembali padanya. Karena aktor utama dari semua kegilaan ini. Dialah yang memulai. Dan sekarang Yonghwa hanya bisa menyesali tindakannya saat itu.

~~~~~~~~

D+1

Kyuhyun menatap tak percaya pada Shinhye. Beberapa saat yang lalu ia masih begitu bersemangat untuk bertemu dengan gadis yang dirindukannya itu. Bahkan jetlag yang dialaminya tidak menurunkan semangat pria itu untuk bertatap muka dengan Shinhye. Tanpa sempat beristirahat dengan baik, ia segera berlari menuju kafe tempat ia dan Shinhye selalu bertemu.

Tapi kebahagiannya berbalik 180 derajat saat gadis itu bersuara. Shinhye bahkan tak memberikan kesempatan padanya untuk memeluk atau menyesap bibir manis itu.

“Biar aku perjelas dulu. Kau ingin kita putus?” tanya Kyuhyun memastikan sekali lagi. Mungkin gadis itu sedang mengerjainya.

Tapi dugaan baik pria itu segera saja enyah saat Shinhye kembali membuka mulut. “Kita bahkan tidak punya hubungan yang benar-benar nyata. Tapi ya ….” Gadis itu mengangkat kedua bahunya acuh. “Jika itu yang kau pikirkan tentang hubungan ini, maka kau benar. Aku ingin kita mengakhirinya.”

Kyuhyun tertawa tak percaya. Sesantai itu Shinhye bisa mengucapkan keinginannya. “Apa kau tidak pernah serius denganku?”

Shinhye tersenyum tipis. Menatap sekeliling ruangan kecil yang hanya terisi olehnya dan pria itu. Salah satu hal yang ia sukai dari tempat ini adalah setiap pelanggan dijaga privasinya dengan baik. “Kau tahu kita tidak dalam hubungan yang serius, Oppa. Friend with benefit? Bukankah itu lebih cocok untuk hubungan kita?” ujarnya setelah puas mengamati ornamen-ornamen kecil yang mempercantik ruangan.

Kyuhyun menarik napas marah. Luka dan kekecewaan tampak jelas di matanya. Ia pikir hari-hari yang dilaluinya bersama Shinhye telah mengubah pikiran gadis itu. “Apa menurutmu aku tidak serius dengan hubungan ini?” Pria itu menatap lekat Shinhye. Ingin sekali rasanya ia berteriak marah, tapi tidak bisa.

Shinhye ternganga, membuka mulutnya. Ia bisa menangkap maksud pria itu. Namun rasanya itu mustahil, bukan?

Oppa, kau ….”

Eoh. Aku mencintaimu,” potong Kyuhyun tanpa ragu.

Ia mengakuinya sekarang. Sebelumnya ia takut untuk jujur karena tak ingin Shinhye pergi dari sisinya. Sekarang ia tak lagi takut. Nothing to lose, kata orang. Meski ia tidak mengatakannya, gadis itu juga akan tetap meninggalkannya bukan? Dengan bersikap jujur, mungkin Shinhye bisa membalas perasaannya.

“Awalnya aku memang hanya ingin bermain-main denganmu. Aku penasaran. Tapi, semakin lama perasaanku berubah. Entah sejak kapan, aku mencintaimu,” akunya jujur.

Shinhye menarik napas dalam. Ini bukan sesuatu yang ia rencanakan. Melihat pancaran luka dan kesedihan di mata pria itu membuatnya merasa bersalah. Shinhye menyesal. Jika sejak awal ia tahu Kyuhyun akan memiliki rasa padanya, tentu Shinhye tak akan memilih pria itu.

Kini ia benar-benar seperti gadis yang jahat. Gadis tak berperasaan yang hanya bermain-main dengan hati pria. Dan hal itu sungguh membuatnya merasa buruk.

“Aku menyesal. Maafkan aku,” lirihnya.

Kyuhyun tersenyum pahit. Ucapan gadis itu bukan sesuatu yang mengejutkan baginya. Ia tahu sejak lama, Shinhye tak punya sedikit pun rasa padanya. Hubungan mereka hanya untuk bersenang-senang. Bahkan mungkin ia hanya dijadikan pelarian oleh Shinhye. Sejak awal, cintanya memang hanya bertepuk sebelah tangan.

~~~~~BERSAMBUNG~~~~~

 

 

 

Catatan Admin :

Let’s Go Crazy part 3. Nah lo Yonghwa, rasakan akibat kegilaanmu. Sepertinya dia harus berjuang dari awal lagi untuk bisa membuat Shinhye kembali percaya padanya. Makasih Tifa sudah melanjutkan FF ini:)

Kami membuat grup WhatsApp khusus pembaca web ini, bila ingin bergabung sila hubungi Lisna di nomor 0821-8593-4742.

Selamat membaca dan jangan lupa komentar, saran dan kritiknya. Terima kasih

PS. Update postingan FF di web bisa dilihat di facebook HS Corner Shop atau di twitter Lovetheangels1

Advertisements

71 thoughts on “[FF Indonesia] Let’s Go Crazy (Part 3)

  1. yooong hwa,itukah yg kau inginkn?bukan rsa puas yg kau rsakn,rsa sakit yg dominan.bahkan shinhye lbih trpukul n bang evil ikut sakit hati ny.
    autor jg brhasil bkin aq ikut nangis.daebaaaak

    Like

  2. Penasaran dengan ending nya…
    Yong telah merasakan penyesalan yang mendalam .. Sesuatu yg tak terduga .

    Next

    Like

  3. kalo emang sakit emang susah sih mau dipaksain juga. tapi kan lebih sakit kalo mereka gini.. yonghwa…shinhye…kenapa yah orangnya teh pada bikin kesel gini:(
    yaidah lah terserah authornya aja ini cerita mau dibawa kemana asal happy end aja hahaha plis jangan gantungyaa aku paling gasuka kalo digituin-,- *apasih hahahaha

    Like

  4. Kasihan bgt c Yonghwa..
    Walaupun sudah kena batunya..tp ttp ga tega..😢😢
    Mungkin Shinhye butuh waktu buat sndri dulu..
    Keren Thor…next

    Like

  5. Ini nih, apa yg aq takutkan terjadi, rasa sayang eonni ke ayong sudah berkurang…
    Hiksss,,,hiks,,,hiks…

    Like

  6. hadeuh tarik napas panjang.
    yong keinginan aneh yang g masuk akal
    awalnya, sekarang akhir yang
    menyakitkan buat semuanya

    Like

  7. semua yang telah kita perbuat akan kembali lagi kepada kita, hanya penyesalan yg tersisa,
    cara terbaik menyelesaikannya dengan memperjuangkannya jika menurut yonghwa cintanya benar2 berharga…
    selamat berjuang abang yonghwa…

    Like

  8. Kashan yh oppa gg bsa blikan lgi ma shinhye eonni tpi.. Rsa skt itu sngatlah dlam hah dtggu next partnya eon fighting

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s