Posted in fanfiksi indonesia, freelance, sequel, series, Tiffatiffa

[FF Indonesia] Erase (Part 5)


Erase

PartΒ 5

photogrid_1487169600917

Author : Tiffatiffa

Main cast : Jung Yonghwa dan Park Shinhye

Other cast : Kang Sora, Ok Taceyeon, Goo Hara Jung Soo Jung, Park Jinyoung.

Editor : Riefa

 

~~~~~~~~~

Β 

Perjalanan hidup manusia ditulis dengan tinta permanen. Meski disembunyikan, masa lalu tidak akan pernah menghilang. Entah perlahan-lahan atau dalam sekejap mata, kenyataan yang telah dikubur dalam nantinya akan naik ke permukaan.

 

~~~~~~~~~~

 

Annyeong, Yong. Lama tidak bertemu.”

Hara tidak melepaskan senyum penuh kepalsuan di wajahnya. Meski harus diakui ia benar-benar merasa senang bisa kembali bertatap muka langsung dengan pria idaman hatinya

Kebahagiaannya justru berbanding terbalik dengan Yonghwa. Pria itu menarik napas dalam untuk menenangkan diri. Ada emosi dan rasa amarah yang memuncak saat melihat sosok Hara di rumahnya. Dan tidak perlu ditanya, Yonghwa juga merasa sangat khawatir bilamana wanita itu mengatakan hal yang tidak-tidak pada Shinhye.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku datang untuk menemui istrimu. Aku tidak sempat mengunjungi Shinhye di rumah sakit, jadi aku memutuskan untuk datang sekarang.”

“Kau tidak perlu melakukannya,” gertaknya tajam.

Shinhye memandang kedunya bergantian. Ada sesuatu yang salah di sini. Jika benar mereka berdua merupakan sepasang sahabat, tidak mungkin Yonghwa sampai sekasar ini pada Hara. Apalagi pandangan mata pria itu terlihat sangat tidak bersahabat.

“Yonghwa ssi, wae? Hara ssi hanya ingin menjengukku.” Shinhye bertanya hati-hati.

Menyadari ekspresi cemas dan bingung dari wajah istrinya, Yonghwa kembali menenangkan emosi. “Tidak apa-apa.” Ia mendekat ke arah Shinhye, tersenyum lembut lalu memberikan kecupan singkat di dahi wanita itu.

Hara mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Begitu muak melihat pria itu mempertontonkan roman picisan di hadapannya.

“Shin ah, kau bisa membawakan tasku ke dalam kamar?”

Eoh?”

Wanita itu masih belum sepenuhnya sadar. Kecupan Yonghwa seperti biasa selalu membuatnya gugup. Dan sekarang bertambah berkali lipat karena ia melakukannya di hadapan orang lain.

“Tolong bawakan tas kerjaku ke kamar.” Yonghwa mengulangi seraya mengangkat tas tangan kulit berwarna hitam yang ia jinjing dari tadi.

Shinhye mengangguk cepat. “Baiklah.” Dia mengambil tas kerja suaminya dan berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua tempat kamar utama berada.

Saat wanita itu sudah tak lagi terlihat, ekspresi Yonghwa kembali mengeras. Mata elangnya menatap tajam pada sosok tamu tidak diharapkan. “Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Hara?”

“Apa maksudmu, Yong. Aku sama sekali tidak mengerti.” Hara masih mencoba bermain aman. Bersikap sebagai gadis manis yang polos. Persis seperti tipe wanita yang Yonghwa sukai.

“Jangan datang ke sini lagi. Aku sudah mengatakannya dengan jelas padamu. Hubungan kita sudah berakhir!”

“Dan aku juga sudah pernah mengatakan bahwa aku tidak akan menerima keputusan sepihak darimu,” balas Hara. Dia bangkit berdiri lalu maju beberapa langkah mendekati Yonghwa. “Ayolah, Yong. Aku tidak yakin kau akan bisa bertahan merawat istrimu yang super naif itu. Apalagi setelah dia kehilangan semua ingatannya. Wanita itu pasti hanya akan merepotkanmu. Dia tidak akan bisa membahagiakanmu,” bisiknya menggoda. Telunjuknya bermain pelan di dada bidang pria itu.

Yonghwa bisa mengerti maksud ucapan Hara. Dengan satu hentakan keras, ia mendorong gadis itu menjauh. Matanya berkilat marah. “Goo Hara ssi, jaga ucapanmu!” Suaranya naik satu oktaf. Yonghwa menjadi sangat marah dengan sikap Hara yang seperti ini. Baru sekarang ia benar-benar melihat kebusukan dari wanita itu.

“Shinhye tidak perlu melakukan apa pun untuk membuatku bahagia. Hanya dengan melihatnya hidup, itu sudah cukup bagiku.”

Hara menahan geram. Sungguh memuakkan saat mendengar kalimat manis untuk wanita itu keluar dari mulut Yonghwa. Bahkan saat mereka masih menjalin hubungan dulu, pria itu sangat jarang mengumbar kata romantis. Dan Hara tahu pasti, mustahil kalimat pujian penuh cinta seperti tadi bisa Yonghwa ucapkan kepada orang lain. Sebab jalinan asmara mereka dahulu adalah sebuah rahasia.

Untuk kesekian kalinya, Hara cemburu. Dan yang tidak pria itu perhitungkan, kecemburuan bisa menjadi alasan terbaik untuk sebuah pembalasan.

“Yonghwa ssi ….”

Shinhye yang sudah kembali ke ruang tamu menatap heran pada kedua orang di sana. Hara sudah tak lagi duduk, tapi berdiri berhadapan dengan Yonghwa. Pandangan keduanya saling beradu. Tampaknya ada sesuatu yang salah yang baru saja terjadi. Atmosfer ruangan terasa tak mengenakkan, ketegangan begitu kentara menyelimuti di sana.

“Apa yang terjadi?” tanyanya hati-hati.

“Tidak ada apa-apa.”

Yonghwa mengalihkan tatapannya. Binar di mata elang itu berubah melembut saat melihat Shinhye. Ada sebuah senyum tipis yang terlihat sedikit dipaksakan. “Hara bilang dia akan segera pulang karena ada urusan.”

“Benarkah?”

Shinhye memastikan. Sejujurnya ia lega jika sang tamu benar-benar pulang. Entah karena alasan apa, Shinhye merasa canggung dan tak nyaman dengan kehadiran Hara. Ia seperti terintimidasi.

Hara menatap Yonghwa sekilas sebelum tersenyum manis pada Shinhye. “Ne. Ada pemotretan yang harus kulakukan.” Ia memilih mundur untuk mengatur rencana yang lebih baik.

“Kau model?”

“Artis lebih tepatnya,” ujarnya penuh kebanggaan.

Shinhye mengangguk takjub. “Kau pasti sibuk sekali.”

“Seperti itulah.”

Hara kembali melirik sebentar ke arah Yonghwa. Pria itu tampak tidak suka karena Shinhye terus saja mengajaknya bicara. Salah satu sudut bibir wanita itu terangkat ke atas, membentuk senyum sinis.

“Kurasa aku benar-benar harus pulang sekarang. Aku akan menemuimu lagi lain kali, Shinhye ssi.” Ia menempelkan pipinya pada pipi kiri dan kanan Shinhye bergantian. Lalu perhatiannya kembali tertuju pada Yonghwa “Sampai bertemu lagi, Yongie yah,” ujarnya sebelum berlalu pergi bersama seorang pelayan yang mengantarnya keluar.

Diam-diam Yonghwa mengembuskan napas geram. Matanya terus mengawasi gerak-gerik Hara hingga wanita itu tak lagi terlihat di ruang tamu. Ada perasaan mengganjal yang menyelimutinya. Sepertinya ia harus mulai mewaspadai wanita itu.

 

~~~~~~~~~

 

Shinhye terhenyak kaget saat sebuah selimut tebal disampirkan pada tubuhnya. Wajah tampan yang berhias senyum lembut menyapa kala ia menoleh untuk melihat orang yang memberikan selimut tersebut. Meski sebenarnya tanpa perlu menengok pun Shinhye sudah tahu siapa dia.

“Kau selalu lupa mengenakan pakaian tebal setiap kali ke sini.”

Yonghwa mengambil tempat di sebelah Shinhye. Sejak wanita itu kehilangan ingatannya, sudah menjadi suatu kebiasaan untuk mereka duduk berdua menikmati malam di taman belakang ini. Dan membawakan selimut untuk sang istri tercinta juga adalah salah satu pekerjaan rutinnya. Shinhye memang sering mengabaikan angin malam yang berembus kencang, membuat Yonghwa harus terus memperhatikannya.

Seorang pelayan datang dengan membawakan dua cangkir minuman hangat. Seperti yang sudah-sudah, cangkir milik Shinhye berisi white tea, sedang Yonghwa akan menikmati kopi hitam miliknya.

“Shinhye yah.” Yonghwa memanggil nama istrinya lembut. “Apa aku melakukan suatu kesalahan?” tanyanya hati-hati.

Sejak kepulangan Hara sore tadi, Shinhye seperti mengacuhkannya. Saat Yonghwa bertanya, dia hanya akan menjawab sekenanya saja.

Shinhye menggeleng pelan. “Anniya.”

“Lalu kenapa kau terus mendiamkanku sejak tadi?”

Geunyang ….”

Shinhye tidak memberikan jawaban pasti. Ia memang mengabaikan suaminya sejak sore ini, tapi itu bukan karena Yonghwa melakukan kesalahan.

Chagi ….”

Wanita itu menarik napas dalam lalu mengembuskannya berat. Satu bulan hidup bersama pria itu, Shinhye tahu panggilan sayang hanya akan diucapkan saat Yonghwa ingin menggodanya atau saat dia khawatir. Saat ini panggilan sayang itu terucap karena alasan kedua.

“Aku hanya merasa tidak nyaman dengan Hara ssi,” akunya jujur.

Sejak kedatangan wanita itu tadi sore, hati Shinhye merasa tak tenang. Sikap dan pembawaan Hara yang dirasa penuh kepura-puraan membuatnya cemas. Ditambah dengan respon Yonghwa saat pertama kali melihat wanita itu, lalu gerak-gerik keduanya yang tampak mencurigakan.

“Apa dia benar-benar sahabatmu?”

Untuk sepersekian detik Yonghwa terdiam. “Ya. Kami memang pernah berteman baik dulu,” jawabnya tanpa menunjukkan keraguan.

“Dulu?” Kedua alis Shinhye terangkat. Bingung dan penasaran dengan penggunaan kata lampau dalam jawaban pria itu.

“Dulu kami berteman dekat. Tapi karena kesibukan masing-masing, aku dan Hara jarang lagi bertemu.”

Oh, Jung Yonghwa! Kau sudah menjadi penipu yang ulung sekarang. Bahkan kebohongan seperti itu pun tak terlihat mencurigakan di mata Shinhye.

“Benarkah?”

“Tentu saja!” Yonghwa tersenyum meyakinkan. Dia benar-benar pandai mengatur ekspresi. Tidak ada gurat keraguan sedikit pun di wajahnya. “Wae? Apakah kau cemburu?”

“Apa?”

“Kau benar-benar cemburu?”

Yonghwa mendekatkan wajahnya pada Shinhye. Dia tersenyum gembira sekarang. Ada dua hal yang membuatnya senang, yaitu pembicaraan tentang Hara yang sudah teralihkan serta kenyataan bahwa wanita itu cemburu.

Wajah Shinhye seketika memanas saat Yonghwa mencondongkan badan ke arahnya. Jarak keduanya sudah sangat dekat. Untung saja lampu taman ini dipasang temaram dan bulan tengah tertutupi oleh awan, jadi wajahnya yang memerah tak terlalu kentara.

Satu kecupan di pipi kanan wanita itu mampu membuatnya terdiam kaku. Shinhye yakin wajahnya sudah merah padam sekarang.

Yonghwa mencubit gemas pipi sang istri. Bahkan setelah sekian kali ia memberikan kecupan di pipi untuknya, Shinhye masih saja bereaksi seperti ini. Begitu lucu dan menggemaskan membuatnya menjadi ketagihan.

“Aku akan melakukan ini setiap kali kau cemburu,” bisik Yonghwa tepat di telinga Shinhye.

Dengan jarak sedekat ini, ia bisa melihat wajah cantik sang istri yang merona merah seperti tomat. Bibir tipis itu mengulum senyum malu, membuat Yonghwa semakin girang.

“Jangan menunjukkan wajah seperti itu padaku. Atau aku akan melakukan yang lebih lagi padamu.”

Shinhye memukul pelan bahu Yonghwa lantas mendorong tubuh pria itu menjauh. Rasa malu yang ia alami bertambah beberapa kali lipat.

Yonghwa terkekeh-kekeh pelan. Kalimatnya tadi mungkin terdengar seperti sebuah godaan jahil, tapi sejujurnya itu adalah ungkapan serius dari dalam lubuk hatinya. Jika saja Shinhye tidak mendorongnya tadi, mungkin ia sudah mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir merah menggoda wanita itu.

 

~~~~~~~~~

 

Hara tersenyum lebar saat seseorang yang telah ditunggunya sedari tadi memasuki kafe ini. Pria dengan jaket kulit berwarna hitam dan celana denim biru tua itu duduk berhadapan dengannya.

Annyeong,” sapa wanita itu berbasa-basi.

Choi Dalpo mendecak kesal pada Hara. Ia masih mempunyai banyak kesibukan yang harus dikerjakan. Ada beberapa tokoh yang masih harus ia kejar, tapi wanita yang merupakan teman masa kecilnya ini memaksa untuk bertemu sejak kemarin sore. Jadi demi persahabatan lama, Dalpo menyempatkan waktu untuk datang ke mari.

“Apa yang ingin kau pesan?”

“Pesankan aku minuman saja. Aku tidak punya banyak waktu.”

Hara mencibir pelan. “Arraso. Kau memang sangat sibuk, Reporter Choi yang terkenal.” Ia lalu memesankan minuman kesukaan Dalpo pada seorang pelayan. Sempat ada sedikit gangguan karena pelayan wanita tersebut meminta izin untuk berfoto dan meminta tanda tangannya.

“Ternyata kepopuleranmu masih cukup baik,” ejek Dalpo setelah pelayan wanita itu pergi.

“Tentu saja. Aku masih tetap artis wanita papan atas di Korea.”

Dalpo menggeleng tak setuju, meski seulas senyum tersemat di wajahnya. “Ada apa kau sampai memaksa ingin bertemu?” tanyanya setelah pesanan mereka datang.

Hara tersenyum kecil. Dalpo memang selalu menjadi orang yang fokus pada poin utama. Mungkin karena sudah terbiasa dengan pekerjaannya sebagai reporter, pria itu tidak suka berbasa-basi. “Aku ingin kau menerbitkan foto-foto itu.”

Kening reporter muda itu berkerut heran. Ia tahu foto apa yang dimaksud. Foto-foto skandal Jung Yonghwa dan Hara yang diambil sekitar satu bulan yang lalu atas permintaan wanita itu sendiri. Setelah foto tersebut diambil, Hara secara tegas mengatakan untuk tidak membeberkannya ke media. Wanita itu bilang ia hanya butuh softcopy dari gambar tersebut.

“Aku tidak bisa melakukannya,” tolak Dalpo tegas.

“Kenapa?”

“Kau sendiri yang bilang kalau foto itu tidak boleh tersebar. Jadi aku sudah menjual fotonya pada Nyonya Jung. Kami sudah membuat perjanjian agar foto-foto itu tidak tersebar. Hitam di atas putih.”

“Aku akan mengganti bayarannya.”

Dalpo tertawa sinis. “Bahkan artis populer sepertimu akan berpikir dua kali untuk mengganti bayaran yang sudah aku terima. Lagi pula ini bukan hanya masalah uang, tapi juga karirku sebagai jurnalis.”

Hara terdiam untuk sesaat. “Kau bisa menyuruh rekanmu yang lain untuk menyebarkannya.”

“Dan aku tetap akan terkena masalah,” ujar Dalpo. “Kau pikir Keluarga Jung tidak akan menyerangku? Meski bukan aku yang menyebarkannya, tetap saja mereka akan menghancurkan aku.”

Dalpo menyesap sedikit ice latte miliknya. “Hara yah, kau tidak akan bisa membayangkan seberapa besar kekuatan Keluarga Jung. Ditambah jika Keluarga Park ikut campur. Aku tidak akan bisa.” Ia menolak dengan keras kali ini.

Hara mengembuskan napasnya lemah. Raut wajahnya yang meredup membuat Dalpo merasa tidak enak hati. Meski wanita itu sering membuatnya kerepotan, tapi Hara tetaplah salah satu sahabatnya yang terbaik.

“Baiklah. Aku akan mencoba mencari cara untuk menerbitkan foto itu.”

“Benarkah?”

Mendadak Hara kembali bersemangat. Apalagi saat melihat reporter gigih itu mengangguk pelan. “Gumawo Dalpo yah. Kau memang sahabatku yang terbaik,” ujarnya dengan kedua jempol yang mengacung ke udara.

 

~~~~~~~~~

 

Shinhye tersenyum puas melihat hasil masakannya sendiri. Setelah satu bulan berguru pada Judy Joo, sekarang dia sudah cukup mahir membuat berbagai jenis masakan. Bahkan makanan penutup sekalipun.

Cha! Sekarang kita hanya perlu memasukkan makanan ini ke dalam tempat bekal!” serunya girang.

Dua pelayan muda yang menemaninya mengangguk setuju. “Nyonya, saya rasa tempat bekal yang ini akan cocok.” Salah satu pelayan datang dengan seperangkat tempat bekal berwarna hijau muda.

Shinhye mengamati sesaat sebelum mengiyakan pilihan sang gadis muda. Dibantu oleh kedua pelayan lainnya, nyonya muda itu dengan cekatan memasukkan hasil masakannya dengan hati-hati. Dia tidak mau penampilan makanan itu tak menggugah. Ini adalah bekal makan siang pertama yang ia buat untuk suaminya.

Berbagai jenis lauk diletakkan dengan apik di dua tempat yang berbeda. Lalu sup seafood yang menggoda sudah siap di termos kecil, membuatnya akan tetap hangat selama beberapa jam.

“Saya yakin Tuan pasti akan senang dengan kejutan yang Anda berikan,” komentar pelayan lain saat semua masakan sudah tertata rapi di tempat bekal.

“Kuharap begitu.”

Shinhye tersenyum senang. Mengucapkan terimakasih pada dua pelayan yang kini tengah mencuci semua peralatan masak yang kotor. Lalu bergegas untuk mengganti bajunya. Ia harus lekas agar bisa sampai di kantor Yonghwa sebelum waktu makan siang. Suaminya itu pasti akan terkejut sekali.

 

~~~~~~~~

 

Taecyeon baru saja akan pergi untuk makan siang ketika pintu ruang kerjanya diketuk dari luar. Dengan berat hati ia mempersilakan orang tersebut untuk masuk. Mungkin ada hal penting yang harus disampaikan.

“Oh? Reporter Choi? Ada apa?” tanyanya terkejut setelah melihat siapa yang datang. Pria itu adalah salah satu reporter terbaik yang dimiliki oleh perusahaan ini.

Dalpo tersenyum canggung setelah menunduk hormat pada pemimpin tertinggi di tempat ini. “Saya memiliki berita yang cukup mengejutkan.” Dia menyerahkan amplop cokelat berukuran A4 ke atas meja kerja.

Isi amplop tersebut adalah foto-foto skandal antara Jung Yonghwa dengan Goo Hara yang selama ini dia simpan rapi. Setelah berpikir keras, hanya ini satu-satunya cara agar foto tersebut bisa tersebar.

Jika orang sepertinya yang tidak punya kekuatan besar menyebarkan foto ini, sudah tentu Keluarga Park dan Jung akan bertindak. Namun jika dia menyerahkan masalah ini pada Ok Taecyeon, hasilnya mungkin akan berbeda.

Dalpo yakin dengan latar belakang Keluarga Taecyeon yang tidak kalah besar, dirinya akan selamat. Meskipun Nyonya Jung akan menyerang, dia bisa mengelak dengan menjadikan sang pimpinan sebagai tameng.

Taecyeon mengerutkan kening heran, tapi ia tetap mempersilakan Dalpo untuk duduk. “Kenapa kau memberikannya padaku? Seharusnya kau langsung saja mengatakannya pada Pimpinan Redaksi Oh,” ujarnya seraya membuka amplop tersebut.

“Beritanya cukup … sensitif?” jawab Dalpo dengan terbata.

Taecyeon tersenyum geli. Sebesar apa berita dalam amplop ini hingga reporter paling andal di perusahaan ini pun tak berani menyebarkannya sendiri.

Mata pria itu terbelalak kaget ketika mengeluarkan isi dalam amplop. Beberapa buah foto yang ada di sana membuat emosinya seketika meledak. Wajahnya memerah dan giginya bergemeletuk menahan amarah.

Dalpo yang melihat perubahan ekspresi itu bahkan sampai ketakutan. “Sajangnim ….”

“Dari mana kau mendapatkan foto ini?” tanya Taecyeon geram.

“Itu ….”

“DARI MANA!” Ia berteriak kencang.

Mungkin suaranya bisa terdengar hingga ke luar ruangan. Tapi Taecyeon tak peduli. Saat ini otaknya tidak bisa merasakan apa pun lagi selain kemarahan yang memuncak. Foto-foto tersebut benar-benar membuat darahnya mengalir cepat.

“Saya mendapatkannya beberapa bulan lalu. Tepat sebelum kecelakaan Park Shinhye ssi.” Dalpo menjawab dengan hati-hati.

Melihat respon dari sang pimpinan, ia tahu dirinya telah salah mengambil langkah. Satu hal yang lewat dari analisisnya adalah hubungan antara Tacyeon dengan Shinhye. Ia sama sekali tidak tahu kalau keduanya merupakan sahabat dekat.

Taecyeon terdiam lama. Ada begitu banyak hal yang ia pikirkan saat ini. Mulai dari memaki hingga ingin membunuh Yonghwa. Tapi satu hal yang Taecyeon tahu pasti, Shinhye tidak boleh tahu hal ini.

Dengan keadaannya yang masih belum stabil wanita itu tidak boleh terguncang. Setidaknya sampai ingatan Shinhye pulih, dia tak boleh sampai mengetahui kelakuan busuk pria yang disebut sebagai suaminya.

“Kau keluarlah,” usir Taecyeon. Dia perlu waktu sendiri.

Nne.”

Dalpo segera bangkit berdiri dan menunduk hormat sebelum mengambil langkah cepat keluar dari ruangan itu.

“Reporter Choi.”

Suara Taceyon menciutkan nyali Dalpo untuk terus melangkah. Ia berhenti dan berbalik lagi ke arah sang pemimpin.

“Ada apa, Sajangnim?”

“Foto-foto ini.” Taecyeon menatap tajam tepat ke arah mata sang reporter. “Jangan sampai ada yang tahu. Kau akan menyesalinya jika hal ini sampai tersebar,” ujarnya penuh penekanan.

Dalpo menelan ludah takut-takut. Tatapan dan ucapan Taecyeon tidak tampak main-main. Spontan ia mengangguk. Dalpo tahu hidupnya akan benar-benar berakhir jika foto itu ia beberkan kepada orang lain.

 

~~~~~~~~~

 

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Yonghwa bertanya dengan nada dingin. Tampak sekali dia tidak senang dengan kehadiran Hara di kantornya. Entah bagaimana gadis itu bisa masuk ke ruangannya.

Sambutan tak ramah dari Yonghwa membuat Hara tersenyum kecut. Semua perlakuan manis yang dulu selalu diberikan oleh pria itu tampaknya benar-benar lenyap sudah. Sekarang setiap kali mereka bertemu hanya sikap dingin yang Yonghwa tunjukkan padanya.

Meski begitu, Hara tetap menebalkan muka. Duduk di kursi hitam berhadapan dengan pria itu. “Aku hanya merindukanmu. Apa tidak boleh?”

“Hara ssi ….” geram Yonghwa tertahan.

Dia tidak ingin berkata kasar pada wanita, tapi sikap Hara sudah keterlaluan sekarang. Dan jika sang mantan kekasih masih juga tidak menggubris ucapannya, jangan salahkan jika ia mengeluarkan wanita itu secara paksa.

Baru saja Yonghwa akan mengusir Hara pergi, tiba-tiba pintu ruangan kembali terbuka. Dan sosok yang tidak ia sangka akan datang kini sudah berada di sana. Berdiri dengan sungkan di depan pintu ruangannya.

“Sayang? Apa yang kau lakukan di sini?”

Selembut dan setenang mungkin Yonghwa menyapa sang istri. Ia juga menekankan intonasi pada kata ‘sayang’ dengan harapan agar Hara tahu posisinya saat ini.

Shinhye berjalan ragu memasuki ruang kerja sang suami. Senyum bahagianya perlahan menghilang berganti rasa canggung saat melihat Hara berdiri di dalam sana. Dan lagi-lagi ia merasakan atmosfer tidak enak. Sepertinya ada ketegangan yang tercipta di tempat ini tepat sebelum ia datang.

Annyeong Hara ssi.” Ia mencoba menyapa. “Apa aku mengganggu kalian?” tanyanya hati-hati. Ada perasaan sesak yang tiba-tiba datang menyergap. Entah apa alasannya.

Gelengan keras dari Yonghwa nyatanya mampu membuat Shinhye menghela napas lega. “Aku datang membawakan bekal untukmu. Aku memasaknya sendiri tadi.” Ia memberi tahu maksud kedatangannya lalu mengangkat tas jinjing kain yang dia bawa.

“Benarkah? Kebetulan sekali, aku sudah sangat lapar sekarang.”

Yonghwa menggandeng Shinhye ke sofa panjang yang berada di dekat jendela besar. Sama sekali tidak menghiraukan Hara yang masih berdiri di tempanya. Pria itu sibuk membantu sang istri membuka setiap kotak bekal yang dibawa.

“Hara ssi, apa kau mau ikut makan bersama kami?” Merasa tak enak, Shinhye mencoba menawari sahabat suaminya itu untuk ikut makan bersama.

Anni.” Yonghwa buru-buru menjawab. “Hara bilang dia ada janji makan siang dengan seseorang. Bukan begitu?” Ia memicingkan mata tajam pada wanita itu. Dan Hara tidak punya pilihan lain selain mengangguk.

Meski marah dan kecewa tapi Hara tidak bisa menunjukkannya sekarang. Waktu pembalasannya akan segera tiba dan ia harus tetap menjaga citra diri dengan baik di mata Yonghwa. Pria itu menyukai dirinya sebagai wanita yang baik. Karenanya semua kelicikannya tidak boleh terlihat sekarang..

“Terimakasih untuk tawaranmu, Shinhye. Tapi aku akan makan siang di luar hari ini.”

“Ah begitu.”

Hara tersenyum tipis. “Kalau begitu aku akan pergi dulu,” ujarnya seraya mengambil tas tangan di atas meja. Saat ia melewati meja berisi makanan yang dibawa oleh Shinhye, wanita itu menghentikan langkahnya.

“Apa itu kacang kenari?” Ia menunjuk pada irisan kenari yang tersebar pada hidangan salad.

Shinhye mengangguk membenarkan. Guru masaknya mengatakan bahwa tekstur setiap makanan harus diperhatikan. Dan untuk jenis masakan tertentu seperti salad, semakin banyak tekstur yang didapatkan akan semakin bagus. Karenya Shinhye mencoba memasukkan irisan kacang kenari yang telah direbus sebentar ke dalam salad buatannya.

Wae?” tanyanya ketika melihat ekspresi terkejut, bukan hanya dari Hara tapi juga dari wajah suaminya.

“Yonghwa alergi kacang kenari. Kulitnya bisa memerah bahkan hanya karena mencicipi kenari sedikit saja. Kau tidak tahu?”

Shinhye menggigit bibir bawahnya dan menggeleng perlahan. Ia ingin menangis. Bukan hanya karena nada suara Hara yang terasa menyudutkan, tapi juga karena ia hampir saja mencelakai suaminya sendiri.

“Maafkan aku. Aku tidak tahu.”

Ia menunduk dalam. Merasa sangat bersalah dan kecewa pada diri sendiri. Bisa-bisanya ia begitu ceroboh begini. Seharusnya ia lebih teliti lagi, mencari tahu jenis makanan apa yang tidak bisa dimakan oleh suaminya.

“Hei, gwaenchana.”

Yonghwa mencoba membesarkan hati sang istri. Membawa tubuh ramping itu masuk ke dalam pelukannya lalu menepuk-nepuk punggungnya pelan.

Pria itu sama sekali tidak peduli dengan Hara yang kembali harus menahan amarah. Ia hanya ingin menenangkan Shinhye sekarang. Jika bisa Yonghwa justru ingin sekali mengusir Hara saat ini juga. Setiap kali wanita itu datang, pasti ada saja hal yang dia lakukan untuk membuat Shinhye tidak nyaman.

“Aku hanya mengingatkanmu untuk tidak makan salad itu. Aku pergi sekarang.”

Tanpa membuang waktu lebih banyak, Hara segera pergi meninggalkan ruang kerja Yonghwa. Jika lebih lama berada di sini ia bisa kehilangan kendali. Sungguh memuakkan rasanya saat melihat perhatian pria itu kini tidak lagi untuknya seorang.

Dalam kemarahannya Hara berjanji akan memberikan rasa sakit dan kecewa yang sama untuk wanita itu. Dia akan membuat Shinhye merasakan luka yang sama sepertinya.

 

~~~~~~~~~~

 

Shinhye melangkah keluar dari ruangan Yonghwa dengan perasaan yang lebih ringan. Meski sempat merasa buruk karena hampir saja mencelakai suaminya dengan masakan yang ia buat sendiri, namun Yonghwa dengan sabar menenangkannya. Perkataan lembut pria itu bisa mengubah suasana hatinya begitu saja. Satu kalimat penuh kelembutan darinya sudah mampu menata perasaannya yang tadi berantakan kembali tenang.

Hanya Yonghwa yang bisa memberikan pengaruh seperti ini padanya. Hal itu membuat Shinhye menjadi semakin yakin dengan perasaannya. Mungkin benar. Ia mulai jatuh cinta pada suaminya sendiri.

Memikirkan hal itu membuat pipinya merona merah. Shinhye mendadak malu hanya karena kemungkinan yang ia asumsikan sendiri. Faktanya Yonghwa adalah orang asing yang tidak ia ingat sama sekali. Tapi dalam waktu yang relatif singkat hatinya sudah terpaut pada pria itu. Mungkin karena di masa lalu ia memang sudah jatuh hati pada Yonghwa. Jadi meski seluruh ingatannya hilang, perasaan itu tidak ikut pergi dan masih utuh hingga sekarang.

“Park Shinhye.”

Suara dingin Hara menghentikan langkah kaki Shinhye. Sepertinya ia melamun terlalu lama hingga tidak menyadari bahwa wanita itu sudah berdiri di hadapannya. Bersandar pada dinding di sebelah lift.

Shinhye memandang bingung ke arahnya. Seharusnya Hara sudah pergi dari tempat ini sedari tadi. “Hara ssi, kau masih di sini?” tanyanya ragu.

“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu.”

“Apa … itu?” Terbata Shinhye bertanya. Sorot mata tajam wanita itu sedikit membuatnya gelisah.

Ketakutannya bertambah berkali lipat kala melihat seringai licik di wajah itu. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak baik yang akan dilakukan oleh Hara

Shinhye mengedarkan pandangan ke sekeliling. Gedung kantor fraksi tempat suaminya bekerja saat ini tampak lengang. Orang-orang sudah kembali ke ruangan masing-masing setelah jam istirahat makan siang usai.

Wanita itu melirik sekilas ke arah lorong. Di salah satu sudutnya ia melihat bayangan samar dari meja sekretaris Yonghwa. Jika Hara melakukan hal yang tidak-tidak ia bisa berlari dan berteriak ke sana meminta tolong.

Bayang-bayang menakutkan yang ada di benaknya semakin menjadi saat Hara mendekat padanya. Tersenyum, tapi bukan sebuah ketulusan yang tampak di sana, melainkan sebuah senyum curang yang sering ia lihat di drama televisi.

“Kau tahu, aku dan Yonghwa bukanlah sahabat.”

Hara berbicara tepat di depan wajah Shinhye. Terlihat sekali ia sangat menikmati ekspresi cemas dari wajah sang mantan penari balet.

“Apa … maksudmu?”

Bibir wanita itu tersenyum makin lebar. Ia memajukan kepalanya lebih lagi hingga bisa berbisik di telinga Shinhye. “Aku dan Yonghwa adalah sepasang kekasih.”

Deg.

Mendadak jantung Shinhye serasa berhenti berdetak. Ia menatap horor pada wanita yang sekarang kini tersenyum puas penuh kemenangan.

“Hara ssi …. Kau … omong kosong apa itu?”

Shinhye akhirnya menemukan suaranya setelah lama terdiam. Ia tidak akan percaya begitu saja dengan kata-kata yang keluar dari mulut orang lain. Apalagi wanita asing yang selalu membuatnya merasa tak nyaman.

Dan lagi Hara membalas dengan sebuah senyuman. Kali ini terlihat seperti mengejeknya. “Kau yakin tidak mengingat perselingkuhan kami, Shinhye ssi? Oh! Seharusnya kau bisa mengingatnya dengan baik. Kau adalah orang yang memberi izin pada kami untuk terus berhubungan. Kau lupa?”

“Tidak. Itu ….—”

Shinhye kehilangan suaranya saat sekelebat bayangan hitam melintas di kepalanya. Ada suara-suara familier di sana. Dan ia bisa melihat wajahnya sendiri yang tengah tersenyum pahit. Duduk di hadapan sepasang pria dan wanita yang tidak lain adalah Yonghwa dan Hara.

Anni! Itu tidak mungkin!”

Ia berusaha menepis memori kabur itu. Tapi semakin keras ia melawan, semakin jelas bayangan itu berputar. Dan Shinhye mulai menjatuhkan satu per satu air matanya. Ia menatap nanar pada wanita yang kini tersenyum penuh kemenangan. “Tidak benar. Itu tidak benar!” isaknya parau.

Ingin mengelak, tapi potongan-potongan gambar itu semakin nyata terasa. Dan pada satu titik potret gambar lain ikut datang satu per satu. Ada sebuah bayangan saat ia mencoba memaksakan senyum pada pasangan yang duduk di hadapannya dengan gurat wajah tanpa rasa bersalah.

Sekarang bukan hanya hatinya yang sesak, tapi kepalanya terasa nyeri seperti ditusuk oleh ribuan jarum berduri. Shinhye mencoba melawan, tapi rasanya semakin menyakitkan.

“AAARRGGH!!”

Sekuat tenaga ia berteriak kencang. Berupaya melampiaskan rasa sakit itu pada teriakannya.

Hara yang melihat keadaan wanita itu menjadi panik seketika. Shinhye tampak begitu kesakitan dengan tangan menekan kedua sisi kepalanya.

Dan saat ia hendak berlari mencari bantuan, Shinhye sudah roboh begitu saja. Jatuh di atas lantai yang keramik dingin.

 

~~~~~~~~~

 

Bersambung ….

😝😝😝

 

 

 

 

Catatan Admin :

YuhuΒ EraseΒ –Β partΒ 5 hadir kembali. Wah, semakin seru, apa yang akan terjadi dengan hubungan Shinhye dan Yonghwa setelah Shinhye ingat soal perselingkuhan Yonghwa? Sepertinya sudah mulai konfliknya, pasti akan lebih nyesek ke depan hahahaha (edisi sotoy). Terima kasih Tifa udah lanjutin FF-nya, ditunggu emailΒ selanjutnya ya *wink*, tetap semangat dan terus belajar (^_^)b

Ada grup WhatsApp khusus pembaca web ini sebagai ajang berbagi dan silaturahim, bila ingin bergabung sila hubungi Lisna di nomor 0821-8593-4742.

Selamat membaca dan jangan lupa komentar, saran dan kritiknya. Terima kasih

PS. Update postingan FF di web bisa dilihat di facebookΒ HS Corner ShopΒ atau di twitterΒ Lovetheangels1

Advertisements

40 thoughts on “[FF Indonesia] Erase (Part 5)

  1. aah jangan jangan shinhye hanya ingat tentang perselingkuhan yonghwa saja… baru aja mereka bahagia…
    namanya juga kehidupan pasti akan banyak duri di jalan…

    Like

  2. Ya ampun kok greget dan gemes banget ya dengan kelakuan si Hara 😑😀
    Baru kemarin manis” dengan Yonghwa n Shinhye.
    Eh, sekarang si rubah sudah beraksi lagi. Ckckck

    Kenapa Yonghwa tidak coba untuk jujur saja ya pada shinhye.
    Mungkin dengan begitu tidak akan jadi rumit seperti ini. Yonghwa juga sudah terlihat putus asa dan bingung. Hemehh…

    Aishh, mudah”an jangan sampai di sebarkan foto” skandal Yonghwa dan Hara.
    Waduhh…bisa gawat ini

    Ahh…konflik nya semakin panas nih. Shinhye juga sudah mulai curiga…
    Ditunggu kelanjutannya saja, semoga badai besar tidak muncul. Ya walaupun harus terjadi pasti nanti akan ada pelangi yang indah kan hehehe

    Semangat kak ^^

    Like

  3. 😭😭😭😭😭😭😭😭😭
    Ya ampun Shinhye …
    Nyesek bacanya thor..
    Penasaran.. Next yaa😒😒

    Like

  4. Hara benar benar jahat. Bagaimana hubungan yongshin selanjutnya. Dan bagaimana reaksi keluarga yong hwa fan shin hye kalau foto foto skandal yong hwa dan hara sampai dipublikasikan oleh taecyeon . Apa taecyeon akan memplubikasikan foto foto itu.

    Like

  5. Shinhye hnya ingat soal perselingkuhan mreka tp shinhye msih blum ingat soal yg laen…
    Knp hara jd nyebelin ya, yonghwa jg sama, knp g jujur aj ma shinhye?
    Ap yg akn d lkukan taecyon ya sm yonghwa???

    Like

  6. kok nyebelin, ngeselin, jengkelin 😫
    hara asem bgt sih mulutnya, licik juga orgnya
    gimana sama keadaan hye ?
    kira” hye bakalan maafin yong enggak ?
    jan sampe pisah deh
    rasanya baru mereka manis” lagi
    eh, udh konflik lagi πŸ˜‚
    d tunggu part selanjutnya thor, gomawo πŸ™πŸ™

    Like

  7. Ih gemes sendiri bacanya….. Saeng kalau minta pw nya lewat pesan di fb bisa gak…. Lo bisa nama fbnya apa….

    Like

  8. Aduuhh… semoga klo shinhye dah kembali ingatan nya.. dia ttp bs terima yonghwa karna merasakan cinta yg tulus.. semoga gak berakhir tragis rmh tngga mereka karna hara

    Like

  9. ya ampun tuh rubah betina masih aja ngerecokin
    rumah tangga yongshin klo beneran ada banyak
    yang nyumpahin tuh.
    yong bukan nya jujur aja eh malah nambah
    kebohongan lain nya.
    moga ingetin shin pulih, terus hubungan yongshin akan membaik walau awalnya tanpa cinta.
    gomawo thor lama kunantikan.
    ditunggu next partnya

    Like

  10. Mungkin kah ingatan shinhye bakal pulih??? Dan setelah pulih apa yg terjadi dengan yongshin? Jangan buat shinhye benci Yonghwa. Terima ksh author selalu ditunggu kelanjutan nya.

    Like

  11. Makin seru, ada konflik lagi.
    Shinhye nggak langsung pulih kan ingatannya? Spy part selanjutnya masih ada sweet nya sedikit.

    Like

  12. hah apakah ingatan shinhyr kembali gara2 hara
    ditunggu part selanjutnya makin seru aja eonni fighthing

    Like

  13. Duhhh bersambung disaat yang tepat disaat bener” baper dan penasaran ahaha, hara-ssi jangan sampe keluarga jung dan keluarga park bertindak kalo sampai terjadi krekkk hidup lo, reporter choi dalpo aja ga berani kan πŸ˜‚πŸ˜‚

    Like

  14. konflik ny mulai kliatan lg…dr hara yg dtg ngrusak hub yongshin…taecyeon yg tw hub yonghwa n hara…trus apalagi yaa k dpn ny…ksian shinhye..mg azz dy kuat n prcya ma suami nya..

    Like

  15. Kok emosi bgt ya ama hara.. moga2 yonghwa nyelamatin shinhye.. dan shinhye akhirnyaaa meskipun ingatan kembali.. bisa merasakan ketulusan yonghwa.. makasih updatenya ya..

    Like

  16. apa shin hye akan ingat kembali, lalu gimana dengan hubungan yongshin. semoga hubungan yongshin baik2 saja. dan buat yong hwa tolong dong ambil sikap tegas sama hara. supaya hara gak mengganggu kalian lagi

    Like

  17. Anjaaayyyy 😣 dasar si pelakor ‘hara’ bikin emosiii !! Ganjeen bgt ity org, udh diputusin masih aja jdi pihak ketiga, kena karma wooyyy inget dosa πŸ˜‘
    Pliiiss yong jujur aja sma shinhye, dan tunjukan klo kamu mmng cinta sma shinhye, gak rela ya si pelakor ngrusak hubungan prnikahan mu dan shinhye ..
    Kasihan shinhye, smga lekas smbuh 😒

    Like

  18. Lha koq tbc nya pas bikin nyesek cie😭😭,,hara bnr2 terobsesi nie,segala cara dilakukan utk nyakitin shinhye,,smg uri shinhye baik2 aja,,ga tau mau komen apa ttg yonghwa,,smg next partnya ga bikin tambah nyesek aja

    Like

  19. Beneran Gemes sama hara… Uuuh siap siap lah ko hara, yonghwa tidak akan tinggal diam…
    Uuugh nyesek….. Gomawo sudah hadir lagi thor… Fighting πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

    Like

  20. Ngga tau siapa yg hrus d salahkn… tpi dsni yg jdi korban sih uri shin yah..
    Next partya jng kelamaan dong thor…
    PENASARAN neh..

    Like

  21. Dasar siluman rubah gk bsa nerima knyataan klo yonghwa dah gk cinta lgi ma dy, mana taechyeon dah tw lgi klakuan yonghwa dlu pdahal kan yonghwa dah berubah n beneran cinta ma shinhye,
    Duuuh….. Bgaimana klo shinhye ingt saat dy nerima foto yonghwa dg hara smpe dy ngalami kecelakaan?
    Smoga z shinhye gk knapa2…..
    Part ni bkin nyesek, mkin nyesek saat digeser kbawah dah tbc z😁😁

    Jdi mokin bkin penasaran, so dtunggu klnjutannya n semangat truz buat authornya….

    Like

  22. Yonghwa dan hara sama sama jahat. Meski alasannya beda beda. Jgn lama2 update nya ya thor, jgn bikin baper kami semakin panjang . Heeee….

    Like

  23. Hara bener” nekat…
    Apa yg akan terjadi pada hubungan yongshin selanjutnya???
    Semoga shin cepat pulih ingatannya,penasaran sama apa yg akan dilakukan yonghwa,keluarga Jung dan keluarga Park mengenai skandal yg ditimbulkan hara…
    Next part thor jgn kelamaan,Tbc nya disitu amat bikin readers penasaran akut nech πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
    Semangat trus thor πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ😘😘😘😘

    Like

  24. Ahhh bener2 g sabar dg kelanjutannya..Apa yg akan dilakukan Shin Hye saat dia ingat semuanya??? Shin Hye akan kembali terluka?😭😭😭

    Like

  25. ih !! kesel sma hara !! apaan sih dia tuh.
    shinhye 😒😒😒😒 kan kasian shinhye.. yonghwa jga udh mlai bngung dia.. untung tdi reporter choi dtg ny ke taecyeon. yah minimal bkan org yg lbh kejam lah.. hahahahaa… wlwpun ujung*nya bakal ketauan.. wkwk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s